Bagaimana kopi pertama kali ditemukan

Bagaimana kopi pertama kali ditemukan? Konon, kopi pertama kali ditemukan ketika para penggembala kambing memperhatikan kambing mereka menjadi enerjik setelah memamah biji kopi.

Di dataran tinggi Etiopia, legenda tentang kopi berasal. Meskipun tidak ada yang menjamin kebenarannya secara valid, dari sanalah legenda tentang Kaldi banyak dibicarakan orang.

Konon Kaldi inilah sang penggembala yang memperhatikan kambing-kambingnya yang tidak tidur sepanjang malam setelah memakan biji kopi.

Kaldi kemudian melaporkan temuannya ini dengan penduduk setempat dan para pemuka agama yang kemudian menjadikan kopi sebagai bahan campuran minuman energi guna membantu tetap semangat ketika beribadah pada malam hari.

Lalu minuman pembangkit energi berbahan kopi ini pada akhirnya cepat mendapatkan perhatian dan banyak dikonsumsi di Afrika hingga semenanjung Arabia.

Kini kopi menjadi minuman favorit di seluruh penjuru dunia. Di semenanjung Arabia, orang-orang Arablah yang tidak saja pertama kali  menanam dan membiakkan tanaman kopi, mereka pulalah yang pertama kali memperjualbelikannya

Kopi tidak hanya diminum di rumah tapi juga di kedai-kedai umum – saat itu disebut qahveh khaneh – yang mulai muncul di kota-kota di Timur Dekat. Kedai-kedai kopi saat itu sangat populer dan banyak orang mendatangi kedai itu untuk segala macam kegiatan sosial. Mereka tidak hanya datang untuk minum kopi dan ngobrol, tetapi mereka juga mendengarkan musik, menonton artis, bermain catur dan berdiskusi tentang aneka isu terbaru hari itu. Tidak cukup menjadi pusat nongkrong dan ngobrol, kedai-kedai kopi pada akhirnya menjadi semacam pusat pertukaran informasi, hingga seringkali warung-warung kopi disebut sebagai ‘Tempat Sekolahnya para orang Bijak”.

Dengan ribuan jamaah haji yang mengunjungi kota suci Mekkah setiap tahun dari seluruh dunia, “anggur arab” ini mulai menyebar di Saudi. Dalam upaya untuk mempertahankan monopoli dalam perdagangan kopi di masa-masa awal, Arab mati-matian menjaga produksi kopi mereka.

Para pelancong Eropa sepulang dari Timur Dekat membawa serta oleh-oleh minuman hitam aneh itu. Pada abad ke-17, kopi telah membuat jalan ke Eropa dan menjadi populer di seluruh benua. Bangsa yang tidak bersimpati terhadap perkembangan bisnis Arab saat itu menyebut kopi sebagai ‘minuman setan yang pahit’.
Kedatangan kopi ke Venesia pada tahun 1615, disambut kaum agamawan lokal dengan mengutuknya. Kontroversi itu begitu besar sehingga Paus Clement VIII diminta untuk campur tangan. Sebelum membuat keputusan, ia memutuskan untuk mencicipi minuman untuk dirinya sendiri. Ia menemukan minuman begitu memuaskan sehingga dia merekomendasikan persetujuan kepada Paus.

Meskipun banyak kontroversi, kedai-kedai kopi di kota-kota utama Inggris, Austria, Perancis, Jerman dan Belanda, dengan cepat menjadi pusat aktivitas sosial dan komunikasi. Di Inggris, kedai kopi bahkandisebut “Universitas satu sen” sebab dengan uang satu sen saja, orang bisa ngobrol berdiskusi berlama-lama hingga seolah-olah belajar di universitas. Pada pertengahan abad ke-17, adalebih dari 300 warung kopi di London, banyak kedai kopi yang menarik para pelanggannya dengan mengkaitkan kopi dan obrolan bisnis, ngopi sambil menikmati pentas seni oleh para artis dan lain-lain.

Banyak bisnis berkembang yang berawal dari sekedar rumah /kedai kopi. Lloyd London, misalnya yang berawal dari kedai kopi  “Lloyd Edward Coffee House”  disesuaikan dari: www.ncausa.org

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>