Bikinnya Enak, Sudah Jadi Anak rasanya Enek ( Curhat strategi dan konsep pendidikan anak )
Berawal dari enak-enak, lalu jadilah anak-anak, lalu enèk-enèk (enèk = semacam rasa tidak nyaman di perut) ketika harus membiayai pendidikannya. Nah, itulah ciri orang tua yang mau enaknya aja. Mau enaknya doang ketika bikin, lalu seenaknya sendiri ketika dihadapkan pada tanggung jawab berupa pendidikan.
Pendidikan anak tidak saja hanya sekedar tanggung jawab biaya. Memberikan pendidikan anak berarti bertanggung jawab terhadap proses dan pencapaian anak terhadap mutu, prestasi dan kualitas pendidikan mereka.
Semenjak usia dini hingga mereka siap untuk hidup mandiri, orang tua berperan penuh dalam memilihkan lingkungan, tempat dan model pendidikan.
Pendidikan anak juga semestinya menjadi visi dan agenda utama ketika sepasang manusia telah berbulat hati untuk memasuki gerbang rumah tangga.
Berawal dari cara berakhlaq sebagai orang tua ketika benih calon sang buah hati telah tumbuh di taman rahim, lalu ketika untuk pertama kalinya sepasang mata lucu dan indah itu menatap mata kita, kemudian untuk pertama kalinya kaki-kaki mungil itu memasuki gerbang playgroup mereka, orang tua selalu harus menjadi model pendidik sebelum pada akhirnya dan lebih lanjutnya orang ketiga seperti guru dipercaya membantu mentransformasikan bermacam disiplin ilmu dan pengetahuan.
Penyediaan fasilitas serta biaya, memberikan pendampingan, melakukan pengawasan bahkan lebih dari sekedar nasihat, semua itu adalah bentuk-bentuk tanggung jawab pendidikan terhadap amanah Allah yang telah dipercayakan bagi kita. Anak adalah titipan, dan titipan itu adalah amanah yang harus ditunaikan. Dan tidak ada yang lebih mulia di dunia ini kecuali menjaga titipanNya dengan sepenuh hati.
Mencetak anak yang cerdas dan berkepribadian shalih. Insting mencetak anak tentu saja dimiliki setiap manusia normal. Sebagai makhluk yang berbudi dan berakal, memiliki keturunan yang cerdas pasti keinginan manusia ketika menjadi orang tua. Sebagai makhluq beradab dan berperadaban, maka memiliki generasi yang berkepribadian shalih, santun dan beradab adalah dambaan kita semua.
Jika tidak ingin dikatakan kebingungan dalam konsep memberikan dan menerapkan strategi pendidikan semenjak dini, pendampingan masa remaja serta pengawasan dan pembekalan ketika dewasa, apakah yang menyebabkan kehancuran moral generasi sekarang hingga kasus aborsi bertebaran? Mengapa masih kurang pengendalian terhadap anak ketika mereka menginjak remaja? Arahan dan bekal bertahan hidup seperti apakah agar ketika mereka memasuki usia mandiri tidak hanya malah menambah angka pengangguran?
Punya pandangan yang berbeda dalam mendidik anak? Saya bukan ahli, saya sekedar orang tua yang selalu belajar. Saya yakin pembaca punya pandangan dan pengalaman yang berbeda, bukankah berbagi itu selalu baik..? Tulislah komentar anda di sini..
———————————————————————————————————
Tulisan lainnya yang berhubungan:
- Temani kreativitas anak
- Curhat Pendidikan Anak
- Lakukan 32 hal ini pada orang tua anda, niscaya anda akan sukses dunia akhirat
- 4 Langkah menanamkan keberanian pada jiwa anak
- 10 Pelajaran Akhlaq & Sopan Santun bagi Anak-anak
- Madu anak pintar
- Banyak Anak Banyak Resiko?
- Bagaimana mendidik anak?
- Agar Anak cinta Al Qur’an
- Bayi Bermuka Dua Lahir di India
- Perang Iraq: Dua bocah polos ini tengah dilecehkan
- Download mp3 Al Qur’an anak-anak: Ahmad Saud, Hasan Al Awwad, Moh Thoha Al Junaid
Category: Inspirasi & Motivasi, Sosial Sains & Culture


























Comments (0)
Trackback URL | Comments RSS Feed
There are no comments yet. Why not be the first to speak your mind.