Dakwah Pembenahan Akhlaq dan Moralitas, Manajemen Nabi SAW dalam membangun Masyarakat Berakhlaqul Karimah

Mencermati kehidupan masyarakat kita pada saat ini, terutama realita keseharian mereka, maka akan kita saksikan pemandangan kehidupan yang sebagian besarnya telah tertimpa fenomena wahn, lemah dan kebobrokan ahklaq terutama generasi muda.

Era globalisasi dan kemajuan tekhnologi telah melesat maju semenjak dimulainya peradaban, namun akhlaq manusia semakin melesat mundur dengan cepatnya. Dan selain aturan Islam, sesungguhnya telah gagal-lah seluruh ajaran, isme dan norma yang mengusung seruan perbaikan tata perilaku ahklaq manusia.

Beberapa bangsa telah di binasakan akibat kebobrokan akhlaq kemanusiaan mereka. Mereka meninggalkan tauhid dan menanggalkan fitroh mereka. Mereka menemui kehancuran. Dan bangsa kita sesungguhnya sedang berjalan di atas contoh skenario tersebut.

Pencegahan tidak lain adalah dengan menanamkan nilai-nilai akhlaq Islam yang bersih luhur dan lurus. Sekarang, pekerjaan untuk itu semua adalah dakwah. Sementara pola dakwah mestinya mengikuti pola yang Rosul SAW telah gariskan dan terapkan di masanya, pada masyarakatnya.

Jalan dakwah Rosul SAW sesunguhnya adalah dakwatu ila tauhid, yaitu berdakwah menyeru manusia agar beribadah hanya kepada Allah saja dan meninggalkan syirik.

Tidak akan bisa begitu saja menyerukan manusia agar berakhlaq karimah dan ber-uswah kepada Rosululloh SAW kalau mereka masih berbuat syirik. Seluruh amal sholeh termasuk ber akhlaq mulia tidak akan diterima Allah, dan bukanlah termasuk akhlaq mulia jika di mata mansuai dipandang berakhlaq tetapi ia tidak berakhlaq di pandangan Allah.

Metode dakwah yang telah digariskan oleh para ulama ialah pola tasfiyah dan tarbiyah. Tashfiyah adalah pembersihan dan murnian ummat dari akhlaq jahiliyah berupa kemusyrikan, kebathilan dan kejahilan, sedangkan tarbiyah ialah pembinaan dan pendidikan ummat dengan ilmu-ilmu din.

Sayangnya, iklim dakwah Islam di Indonesia tidak terlihat adanya ghiroh dan landasan ilmiyah yang benar dan pola kerja para da’i dan para juru dakwahpun masih kurang maksimal. Mereka bergerak dari masjid ke masjid, dari mimbar ke mimbar, dari Jum’at ke Jum’at dan menjamurnya majelis ta’lim serta kemudahan dakwah sarana dakwah, namun hasil yang dicapai masih jauh dari harapan. Sungguh benar bahwa faktor hidayah adalah urusan Allah SWT, dan bukan hak kita untuk mengukur suksesnya dakwah dengan quantitas. Akan tetapi sesungguhnya, qualitas dakwah itu adalah kita yang menentukan. Para muballigh dan juru dakwah adalah penerus risalah kenabian, yakni wahyu yang telah diturunkan Allah SWT kepada Rosulnya. Sudahkah kinerja da’wah kita telah sesuai dengan apa yang digariskan oleh Rosul Nya?

Banyak contoh kebobrokan akhlaq masyarakat sekitar kita jika ingin kita sebutkan. Mulai dari moral yang bejad karena kemusryikan, perzinahan, perjudian dan dosa-dosa besar lainnya.

Maraknya tayangan kekerasan, pelecehan seksual, fenomena dukun dan paranormal, glamournya kehidupan artis dan dunia fantasi, bertebarannya media penyeru maksiat, dan menjamurnya pornografi di internet, sesungguhnya itu adalah realita hancurnya tatanan akhlaq moral generasi kita dan sekaligus membuktikan kurangnya kesungguhan, keseriusan dan qualitas dakwah para da’i, selain itu juga merupakan bukti mandulnya pemerintahan kita.

Itulah sekilas gambaran latar belakang masalah yang telah menggerakkan hati kami untuk mencermatinya dan kemudian menuangkannya dalam bentuk risalah singkat ini.

Tulisan selanjutnya:

Perumusan Masalah

Itulah sekilas gambaran latar belakang masalah yang telah menggerakkan hati kami untuk mencermatinya dan kemudian menuangkannya dalam bentuk risalah  ini.

b. Perumusan Masalah

Ada banyak hal sebenarnya yang bisa kita rumuskan dengan menilik pada latar belakang yang kami kemukakan di atas. Perumusan masalah tersebut merupakan pokok pikiran pada risalah ini, dan insya Allah penulis akan memperincikan dan membahasnya sesuai dengan kemampuan.

Adapun rincian singkatnya ialah sebagai berikut:

  • i. Penjelasan makna dakwah dan akhlaqul karimah.
  • ii. Fenomena dakwah pembinaan ahklaq di Indonesia.
  • iii. Korelasi antara qualitas dakwah dengan realita kondisi ummat Islam sekarang ini.
  • iv. Strategi dakwah yang benar dalam menata kehidupan berakhlaq.
  • v. Solusi atas permasalahan dakwah yang berorientasi kepada pembinaan akhlaq.

c. Tujuan Penulisan

Secara umum, tujuan utama penyusunan risalah ini ialah ingin menuangkan sedikit kepedulian ilmiah kami terhadap dakwah Islamiyah.

Adapun tujuan penulisan secara khusus ialah:

  • i. Memberikan penjelasan dan menempatkan makna dakwah dan akhlaqul karimah secara tepat dan proporsional.
  • ii. Menjelaskan dan menginformasikan fenomena dakwah pembinaan ahklaq di Indonesia.
  • iii. Menjelaskan korelasi antara qualitas dakwah dengan realita kondisi ummat Islam sekarang ini.
  • iv. Membahas strategi dakwah yang benar dalam menata kehidupan berakhlaq.
  • v. Membahas solusi atas permasalahan dakwah yang berorientasi kepada pembinaan akhlaq.

d. Tekhnik dan Sistematika Penulisan

i. Tekhnik Penulisan

Metode penulisan yang digunakan penulis dalam karya tulis ini adalah menggunakan metode normatif dan ilmiyah, yaitu metode penelitian kepustakaan murni, dengan merujuk pada buku-buku mengenai metode-metode dakwah Rosul dalam pembentukan akhlaqul karimah serta melakukan pengamatan permasalahan di lapangan (masyarakat) dan membandingkannya dengan dalil normatif historis dalam al Qur’an maupun dalam al Hadits.

ii. Sistematika Penulisan

Agar mempermudah pemahaman dan penelaahan pembaca terhadap tulisan risalah kami ini, penulis sengaja membagi risalah ini ke dalam empat bab. Di mana bab pertama berisi pendahuluan dan pengenalan permasalahan. Dua bab selanjutnya adalah jelaskan mengenai permasalahan dakwah dan akhlaqul karimah dan korelasinya.

Pada Bab Kedua kami paparkan aspek – aspek dakwah dalam pembentukan akhlaqul karimah.

Pada Bab Ketiga insya Allah akan kami kemukakan bahasan mengenai jalan keluar dan beberapa solusi dari permasalahan dakwah.

Bab terakhir adalah rangkuman kesimpulan dan catatan akhir risalah risalah ini serta beberapa harapan penulis.

II. BAB ASPEK-ASPEK DAKWAH DAN AKHLAQUL KARIMAH

Dalam bab ini, sesuai dengan apa yang telah penulis paparkan dalam bab I Perumusan Masalah, maka penulis akan mencoba memberikan penjelasan dan menempatkan makna dakwah dan akhlaqul karimah secara tepat dan proporsional dengan menukil dari beberapa sumber yang terpecaya.

a. Pengertian Dakwah

Dalam buku Strategi Dakwah Islam dalam Membentuk Da’i dan Khotib Profesional oleh Drs. Alwisral Imam Zaidallah, Terbitan Kalam Mulia Jakarta, Cet. Pertama Agustus 2002, dipaparkan pengertian dakwah sebagai berikut yakni bahwa pengertian dakwah dapat ditinjau dari 2 segi, yakni secara etimologi dan secara terminologi.

i. Etimologi

Kata dakwah berasal dari bahasa ‘Arab yakni: / . Jadi kata du’aa atau dakwah dalam isim Masdar dari du’aa yang keduanya mempunyai arti sama yaitu ajakan atau panggilan.

Asal kata du’aa bisa diartikan dengan macam-macam arti, tergantung kepada pemakaiannya dalam kalimat. Misalnya: ?dapat diartikan memanggil atau menyeru ia akan dia. dengan arti mendo’akan dia baginya.

Menurut pendapat ulama Basrah, dasar pemanggilan kata dakwah itu adalah kata dari masdar yakni ?yang artinya panggilan.

Sedangkan menurut ulama Kuffah, perkataan dakwah itu diambil dari akar kata yang artinya telah memanggil-manggil.

Kesimpulan kata dakwah mempunyai arti ganda tergantung kepada pemakaiannya dalam kalimat. Namun dalam hal ini, yang dimaksud adalah dalam arti seruan, ajakan atau panggilan. Dan panggilan itu adalah panggilan kepada Allah SWT .

ii. Terminologi

Pengertian dakwah menurut terminologi atau istilah ada beraneka ragam yang dikemukakan oleh para ahli yaitu:

Syaikh Ali Mahfudz

? ? ?. (?)

Artinya: Mendorong manusia atas kebaikan dan petunjuk dan menyeru kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran guna mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.

Abu Bakar Zakaria

Dinukilkan kembali oleh Drs. Anwar Masy’ari dalam bukunya studi tentang ilmu dakwah sebagai berikut:

? ? ? .

Artinya: Usaha para ulama dan orang-orang yang memiliki pengertian tentang agama memberikan pelajaran kepada khalayak ramai berupa hal-hal yang menimbulkan pengertian berkenaan dengan unsur-unsur agama dan dunia mereka sesuai dengan daya mampu.

Muhammad Natsir

Muhammad Natsir membedakan pengertian risalah di suatu pihak dan dakwah di pihak lain. Pendapatnya antara lain: “Risalah adalah tugas yang dipikulkan kepada Rosul SAW untuk menyampaikan wahyu yang diterimanya, sedangkan dakwah adalah tugas para muballigh untuk meneruskan risalah sesudah Rosul SAW, tegasnya, tugas risalah para Rosul dan tugas dakwah para muballigh.”

Prof. Thoha Yahya Umar, MA

Prof. Thoha Yahya Umar, MA membagi pengertian dakwah menjadi dua bagian yakni dakwah secara umum dan dakwah secara khusus.

Pengertian dakwah secara umum ialah ilmu pengetahuan yang berisi cara-cara dan tuntunan – tuntunan bagaimana seharusnya menarik perhatian manusia agar menganut, menyetujui, dan melaksanakan suatu ideologi pendapat pekerjaan yang tertentu.

Pengertian dakwah secara khusus ialah mengajak manusia secara bijaksana kepada jalan yang benar sesuai dengan perintah aturan untuk kebahagiaan dan kemaslahatan mereka di dunia dan di akhirat.

Drs. Hamzah Ya’cub

Drs. Hamzah Ya’cub mengkategorikan dakwah secara umum dan dakwah menurut Islam. “Pengertian ilmu dakwah secara umum ialah suatu pengetahuan yang mengajarkan dan tekhnik menarik perhatian orang guna mengikuti suatu ideologi dan pekerjaan tertentu. Adapun definisi dakwah Islam ialah mengajak ummat manusia dengan hikmah dan kebijaksanaan untuk mengikuti petunjuk Allah dan Rosul SAW.”

Berpedoman kepada pengertian yang dikemukaan oleh para ahli di atas maka dapatlah ditarik beberapa kesimpulan bahwa: Dakwah adalah suatu proses penyelenggaraan aktifitas atau usaha yang dilakukan secara sadar dan sengaja dalam upaya meningkatkan taraf dan tata nilai hidup manusia dengan berlandaskan ketentuan Allah SWT dan Rosul SAW. Adapun bentuk usaha yang dilakukan tersebut meliputi:

I. Mengajak manusia untuk beriman, bertaqwa serta mentaati segala perintah Allah dan Rosul SAW.

II. Dengan melaksanakan amar ma’ruf nahi mungkar.

III. Memperbaiki dan membangun masyarakat yang Islami.

IV. Menegakkan dan mensyi’arkan agama Islam.

Dan proses penyelenggaraan tersebut merupakan suatu usaha untuk mencapai tujuan yakni kebahagiaan dan kesejahteraan hidup di dunia dan di akhirat.

b. Tujuan Dakwah

Setelah melihat pengertian dakwah secara global di atas maka dapat diambil kesimpulan bahwa tujuan dakwah ialah meningkatkan taraf dan tata nilai hidup manusia dengan berlandaskan ketentuan Allah SWT dan Rosul Nya SAW, yang meliputi: agar manusia beriman, bertaqwa serta mentaati segala perintah Allah SWT dan Rosul SAW, melaksanakan amar ma’ruf nahi mungkar, memperbaiki dan membangun masyarakat yang Islami serta menegakkan dan mensyi’arkan agama Islam.

Untuk lebih detail dan rinci lagi tentang tujuan dakwah Islamiyah secara global, maka penulis di bawah ini menukil tulisan syaikhul Islam Muhammad bin Abdul wahab dalam kitab beliau Kitabut Tauhid dalam bab Da’wah Kepada Syahadat “Laa ilaha illa Allah” Firman Allah Ta’ala:

“Katakanlah: Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) hanya kepada Allah dengan penuh pengertian dan keyakinan. Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang berbuat syirik (kepada-Nya).” Qs. Yusuf:108

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma menuturkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala mengutus Mu’adz ke Yaman, bersabdalah beliau kepadanya:

“Sungguh, kamu akan mendatangi kaum Ahli Kitab, maka hendaklah pertama kali da’wah yang kamu sampaikan kepada mereka ialah syahadat Laa ilaha illa Allah – dalam riwayat lain disebutkan: “Supaya mereka mentauhidkan Allah” – Jika mereka telah mematuhi apa yang kamu da’wahkan itu, maka sampaikanlah kepada mereka bahwa Allah mewajibkan shalat lima waktu sehari semalam. Jika mereka telah mematuhi apa yang kamu sampaikan itu, maka sampaikanlah kepada mereka bahwa Allah mewajibkan kepada mereka zakat yang diambil dari orang-orang kaya diantara mereka untuk diberikan kepada orang-orang fakir. Dan jika mereka telah mematuhi apa yang kamu sampaikan, maka jauhkanlah dirimu dari harta pilihan mereka, dan jagalah dirimu dari do’a orang mazhlum (teraniaya), karena sesungguhnya tiada suatu tabir penghalang pun antara doanya dan Allah.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan pula dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam semasa perang Khaibar bersabda: “Demi Allah, niscaya akan kuserahkan bendera (komando perang) ini besok hari kepada orang yang mencintai Allah serta Rasul-

Nya dan dia dicintai Allah serta Rasul-Nya; semoga Allah menganugerahkan kemenangan melalui tangannya.” Maka semalam suntuk orang-orang pun memperbincangkan siapakah diantara mereka yang akan diserahi bendera itu. Pagi harinya mereka mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masing-masing mengharap untuk diserahi bendera tersebut. Lalu bersabdalah beliau:

“Di manakah ‘Ali bin Abu Thalib?” Dijawab: “Dia sakit kedua belah matanya.” Mereka pun mengutus seorang utusan kepadanya dan didatangkanlah dia. Lantas Nabi meludah pada kedua belah matanya dan berdoa untuknya, seketika itu dia sembuh seakan-akan tidak pernah terkena penyakit. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyerahkan kepadanya bendera dan bersabda:

“Melangkahlah ke depan dengan tenang sampai kamu tiba di tempat mereka, kemudian ajaklah mereka kepada Islam dan sampaikanlah kepada mereka hak Allah Ta’ala dalam Islam yang wajib mereka laksanakan. Demi Allah, bahwa Allah memberi petunjuk satu orang lewat dirimu, benar-benar lebih baik bagimu daripada unta-unta merah.”

Unta-unta merah adalah harta kekayaan yang sangat berharga dan menjadi kebanggaan orang ‘Arab pada masa itu.

Demikianlah beberapa nukilan ayat dan hadits yang disusun oleh syaikhul Islam, Muhammad bin Abdul Wahab. Adapun pengertian dari susunan redaksional tulisan beliau ini kaitannya dengan tujuan dakwah Islamiyah ialah:

“Da’wah kepada syahadat “Laa ilaha illa Allah” adalah pandangan hidup bagi orang-orang yang mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam”

Maknanya ialah bahwa tujuan dakwah adalah menegakan kalimat tauhid, yakni pengesaan Allah swtsebagai satu-satunya ilah yang pantas diibadahi dengan segala bentuk ibadah. Karena tauhid adalah bentuk sempurna akhlaq seorang hamba.

c. Hukum Dakwah

Kita telah mengetahui bahwa dakwah adalah suatu proses penyelenggaraan aktivitas atau usaha yang dilakukan secara sadar dan sengaja dalam upaya meningkatkan taraf dan tata nilai hidup manusia dengan berlandaskan ketentuan Allah SWT dan Rosul SAW atau dengan kata lain ialah amar ma’ruf nahi munkar, maka bagaimanakah hukum untuk melaksanakan dan menegakaannya?

Syaikhul Islam, Ibnu Taimiyah menjelaskan dalam kitab yang ditahqiq oleh Syaikh Ibrahim Isma’il Ashr sebagai berikut:

“Amar ma’ruf nahi munkar adalah sesuatu yang dengannya Allah menurunkan kitab-kitabnya dan mengutus para rosulNya, serta bagian inti dari agama. Sesungguhnya risalah (pesan) Allah terkadang berupa Al Ikhbar dan terkadang berupa Al –Insya’.

Al Ikhbar (pemberitahuan) berupa kabar tentang dzat Allah dan tentang makhluknya yang seperti tauhid, dan kisah yang terkandung di dalamnya janji dan ancaman. Adapun Al Insya’ adalah berupa perintah, larangan dan hukum mubah.

Ini seperti yang disebutkan dalam hadits: (( )) ?.

Artinya: “Sesungguhnya ‘Qul Huwa Allahu Ahad’ sebanding dengan sepertiga Al Qur’an.” (Shahih Al Bukhari (9/59), Al Muwatho’

(1/208), Sunan Abi Dawud (1461) dan Sunan An Nasa’I (2/171)

Karena surat Al Ikhlas mengandung sepertiga isi Al Qur’an yaitu tauhid. Sebab Al Qur’an berisi tentang tauhid, perintah dan kisah.

Firman Allah SWT tentang sifat Nabinya SAW :

“Yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma`ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk. Qs. Al A’roof: 157

Ini adalah penjelasan tentangkesempurnaan risalahnya karena beliau disuruh oleh Allah melalui lisannya agar memrintahkan setiap yang ma’ruf dan melarang dari setiap yang munkar, menghalalkan setiap yang baik dan mengharamkan setiap yang buruk. Oleh sebab itu Nabi SAW bersabda:

(( ?))

“Sesungguhya aku telah diutus untuk menyempurnakan budi pekerti yang mulia” (Al Bukhari dalam Al Adabul Mufrod (2730), Al Hakim dalam AL Mustadrak (2/613) dan beliau berkata bahwa hadits shahih sesuai dengan syarat Imam Muslim, Al Muwatho

(2/904), Ibnu Abdil Barr dalam kitab Tajridud Tamhid (817) berkata bahwa hadits ini adalah shahih dari Abu Huroiroh dan yang lainnya. Beliau juga berkata bahwa semua kebaikan, kebajikan, agama, etika, ihsan dan keadilan terkumpul dalam hadits tersebut maka beliau diutus untuk menyempurnakannya.

Dalam hadits muttafaq ‘alaih, beliau SAW juga bersabda: yang artinya “Perumpamaan aku dan perumpamaan para nabi seperti perumpamaan seseorang yang membangun sebuah rumah hingga selesai dan sempurnakecuali satu tempat batu bata. Orang-orang mengelilingi rumah itu dan mengagumi keindahannya, lalu mereka berkata: “Sangat indah jika satu bata ini ada!” maka akulah batu bata itu” (Shahih Al Bukhari (6/558), Shahih Muslim (1791) dan At Tirmidzi (3692) dll.

Dengan perantara Nabi Muhammad SAW Allah menyempurnakan agama (Islam) yang berisi perintah kepada setiap yang ma’ruf dan larangan kepada setiap yang munkar, penghalalan setiap yang baik dan pengharaman setipa yang buruk.

Sesungguhnya di antara para Rosul sebelum Nabi Muhammad SAW ada yang mengharamkan atas umatnya sebagian sesuatu yang baik, sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah:

“Maka disebabkan kezaliman orang-orang Yahudi, Kami haramkan atas mereka (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka…” Qs. An Nisaa: 160 dan terkadang tidak mengharamkan atas umatnya semua yang buruk. Sebagaimana firmannya:

“Semua makanan adalah halal bagi Bani Israil melainkan makanan yang diharamkan oleh Israil (Ya`qub) untuk dirinya sendiri sebelum Taurat diturunkan”. Qs. Ali Imron: 93

Pengharaman semua yang buruk termasuk dalam pengertian nahi munkar, sebagaimana segala yang baik termasuk dalam pengertian amar ma’ruf. Karena pengharaman sesuatu yang baik-baik termasuk dilarang oleh Allah. Juga menyuruh kepada semua yang ma’ruf dan melarang dari setiap yang munkar tidak terlaksana tanpa melalui Rosul SAW karena Allah telah menyempurnakan budi pekertiluhur (akhlaq karimah) beliau sebagai bentuk pembuktian nilai kebaikan, Allah SWT berfirman:

?

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni`mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. …” Qs. Al Maidah: 3

Jadi, Allah telah menyempurnakan agama untuk kita, mencukupkan nikmatnya kepada kita, dan ridha Islam sebagai agama kita.

Begitu pula ummat ini telah disifati dengan sifat yang diberikan kepada nabi Nya sebagaimana firman Allah SWT:

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah…” Qs. Ali Imron: 110

Allah SWT berfirman:

…..

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain.

Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma`ruf, mencegah dari yang mungkar..” Qs. At Taubah: 71 Oleh sebab itu, Abnu Hurairoh ? pernah bersabda:

((, ?))

“Kalian adalah manusia terbaik yang dikeluarkan bagi manusia lain. Kalian membawa mereka dengan belenggu-belenggu dan rantai sampai kalian memasukan mereka ke dalam syurga” (Shahih Al Bukhary (8/224) secara mauquf dari Abu Huroiroh dengan lafadz “Sesungguhnya kalian adalah sebaik-baik manusia untuk manusia yang lain. Kalian membawa mereka dalam belenggu-belenggu di leher mereka sampai kalian membawa mereka masuk syurga”)

Allah menjelaskan bahwa ummat Islam adalah umat yang terbaik bagi manusia. Mereka paling banyak memberi manfaat dan paling banyak berbuat baik (ihsan) karena menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yangmunkar, dan mereka berjihad di jalan Allah dengan jiwa dan harta mereka untuk menegakan kebenaran. Maka demikian itu suatu bentuk kemanfaatan yang paling sempurna bagi makhluk.

Umat lain tidak menyuruh umat manusia kepada setiap yang ma’ruf dan tidak mencegah dari yang munkar. Dan mereka tidak melakukan jihad untuk itu, bahkan ada di antara mereka yang belum melakukan jihad. Jika umat lain (seperti bani isroil) berjihad, pada umumnya hanya untuk membela negeri mereka dari serangan musuh, sebagaimana perang mereka melawan penyerang yang zhalim bukan untuk dakwah dan mengajak kepada petunjuk dan kebaikan dan bukan pula menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, sebagaimana perkataan nabi Musa as kepada kaumnya:

“Hai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu lari ke belakang (karena takut kepada musuh), maka kamu menjadi orang-orang yang merugi. Mereka berkata: “Hai Musa, sesungguhnya dalam negeri itu ada orang-orang yang gagah perkasa, sesungguhnya kami sekali-kali tidak akan memasukinya sebelum mereka ke luar daripadanya. Jika mereka ke luar daripadanya, pasti kami akan memasukinya.” Berkatalah dua orang di antara orang-orang yang takut (kepada Allah) yang Allah telah memberi ni`mat atas keduanya: “Serbulah mereka dengan melalui pintu gerbang (kota) itu, maka bila kamu memasukinya niscaya kamu akan menang. Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman”. Mereka berkata: “Hai Musa, kami sekali-sekali tidak akan memasukinya selama-lamanya, selagi mereka ada di dalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja.” Qs. Al Maidah 21-24

Dan juga firman Allah SWT :

Artinya: “Apakah kamu tidak memperhatikan pemuka-pemuka Bani Israil sesudah Nabi Musa, yaitu ketika mereka berkata kepada seorang Nabi mereka: “Angkatlah untuk kami seorang raja supaya kami berperang (di bawah pimpinannya) di jalan Allah”. Nabi mereka menjawab: “Mungkin sekali jika kamu nanti diwajibkan berperang, kamu tidak akan berperang.” Mereka menjawab: “Mengapa kami tidak mau berperang di jalan Allah, padahal sesungguhnya kami telah diusir dari kampung halaman kami dan dari anak-anak kami?” Maka tatkala perang itu diwajibkan atas mereka, mereka pun berpaling, kecuali beberapa orang saja di antara mereka. Dan Allah Maha Mengetahui orang-orang yang zalim.” Qs. Al Baqoroh: 246

Ayat di atas menerangkan bahwa motivasi utama mereka dalam berperang hanya karena diusir dari rumah-rumah (atau kampung halaman) dan anak-anak mereka. Meski demikian mereka pengecut, tidak mau melakukan perang yang diwajibkan kepaad mereka itu.

Sehingga tidak halal bagi mereka harta rampasan perang (ghanimah) dan mereka tidak dapat menggauli budak.

Padahal sesungguhnya umat yang beriman sebelum kita yang terbesar adalah bani Isrooil, sebagaimana diterangkan dalam hadits yang disepakati kebenarannya dalam hadits shahih Al Bukhari dan Shahih Muslim yangberasal dari Ibnu ‘Abbas ? bahwa Rosul SAW pernah bersabda, Artinya: “Semalam diperlihatkan kepadaku para nabi bersama umatnya masing-masing. Ada seorang nabi yang hanya lewat bersama satu orang; ada seorang nabi yang bersama dua orang; kemudian ada seorang nabi yang bersama sekelompok orang; dan ada nabi yang sendirian. Lalu aku melihat sekelompok umat yang banyak, -dalam suatu riwayat- “Tiba-tiba ada bukit tinggi yang penuh dengan manusia. Maka aku berkata, “Inikah umatku?” maka dijawab, “Mereka itu umat dari bani Isrooil, tapi lihatlah ke arah ini dan itu!” Maka aku melihat sekelompok umat manusia yang sangat banyak menutupi ufuk. Lalu dikatakan, “Mereka itu adalah umatmu, bersama mereka terdapat tujuh puluh ribu orang yang masuk syurga tanpa dihisab.” Kemudian sahabat membubarkan diri tanpa ada penjelasan kepada mereka. Maka para sahabat nabi saling bercerita, mereka mengatakan, “Kami dulu dilahirkan dalam keadaan syirik, tapi kami te;lah beriman kepada Allah dan rasulnya, mungkin saja itu untuk anak-anak kami”. Maka pembicaraan meraka sampai kepada Rosul SAW lalu beliau bersabda, “Mereka adalah orang yang tidak berobat dengan rajahan (besi yang dipanaskan ), tidak meminta obat dengan ruqyah, dan tidak menyandarkan nasib sial kepada burung namun mereka hanya bertawakkal kepada rabbnya.” Lalu bangkitlah Ukasyah bin Mihsan dan berkata, “Apakah aku termasuk di antara mereka ya Rasululloh!” Rosul SAW menjawab, “Ya.” Kemudian ada seseorang lagi berdiri dan berkata, “Apakah aku juga termasuk di antara mereka?” Rosul menjawab, ‘Kamu telah didahului oleh Ukasyah” (Shahih Al Bukahri: 10/211 dan Shahih Muslim 220”.

Oleh sebab itu maka ijma’ umat merupakan suatu hujjah karena Allah telah mengabarkan bahwa umat ini selalumenyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari setiap yang munkar. Jika mereka berijma’ atau bersepakat; membolehkan yang haram, menggugurkan yang wajib, mengharamkan yang halal, atau menyampaikan sesuatu tentang Allah atau makhluknya dengan yang bathil berarti mereka telah menyuruh yangmunkar danmelarang yangma’ruf sementara menyuruh yang munkar danmelarang yang ma’ruf bukan termasuk Al Kalimatuuth Thoyib (Perkatan Baik) dan amal yang sholeh bahkanayat di atas mmberi pengertian bahwa segala sesuatu yang tidak diperintahkan oleh umat ini maka bukan termasuk perkara yang ma’ruf dan sesuatu yang tidak di larang oleh mereka bukan termasuk perkara yang mungkar. Karena ciri utama Islam selalu menyuruh kepada yangma’ruf dan mencegah dari yang munkar.

Bagaimana mungkin semua umat sepakat untuk menyuruh kepada setiap yang munkar atau mencegah dari yang ma’ruf?

Allah SWT telah mewajibkan amar ma’ruf nahi munkar secara fardu kifayah kepada umat ini sebagaimana firman Nya:

?

Artinya: “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma`ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” Qs. Ali Imron: 104”.

Syaikh Muhammad bin Shoolih Al ‘Utsaimin rahimahulloh, ketua majelis kibaaril ulama Saudi Arabia dan Dosen di Universitas Islam Madinah menjawab suatu pertanyaan tentang hukum dakwah sebagai berikut:

Pertanyaan: Apakah berdakwah kepada Allah itu wajib atas setiap muslim dan muslimah? Ataukah hanya terbatas pada para ulama’ dan penuntut ilmu syar’i saja? Dan bolehkah seseorang yang awam berdakwah ilaa Allah?

Jawab: Apabila seseorang berada di atas bashiiroh (pengetahuan yang benar dan jelas) terhadap apa yang akan dakwahkan maka tidak ada perbedaan di antara seorang alim yang besar yang dihormati atau seseorang penuntut ilmu yang tekun atau seorang yang awam. Namun ia harus mengetahui masalah (yang ia dakwahkan) dengan ilmu yang meyakinkan. Sebab Rosul bersabda: ((?)) sampaikanlah dariku walaupun sedikit”. Dan seseorang da’ i tidak mempersyaratkan harus sampai pada derajat kadar yang tinggi dalam hal ilmu. Akan tetapi dipersyaratkan ia harus mengetahui yang didakwahkan. Adapun jika menjalankan dakwah atas kebodohan dan persaan yang ia miliki, maka hal ini tidak boleh.

Karena itu kita sering menemukan saudara-saudara kita yang menyeru kepada jalan Allah namun tidak memiliki ilmu kecuali sedikit; kita akan menemukan mereka yang sangat kuat lalu mengharamkan apa yang tidak diharamkan oleh Allah dan mewajibkan apa yang tidak diwajibkan oleh Allah atas hamba-hambanya dan ini adalah perkara yang sangat berbahaya, karena mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Allah adalah sama dengan menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah . Maka jika mereka mengingkari orang lain yang menghalalkan Allah maka yang lainpun mengingkari pengaharaman mereka terhadap apa yang dihalalkan Allah karena Allah berfirman:

“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung. (Itu adalah) kesenangan yang sedikit, dan bagi mereka azab yang pedih. Qs. An Nakh: 116-117

Adapun seorang awam maka ia tidak boleh berdakwah sementara ia tidak mengetahui (apa yang akan ia dakwahkan). Maka pertama kali harus ia penuhi adalah ilmu, berdasarkan firman Allah:

Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik”. Qs. Yuusuf: 108

Maka ia harus berdakwah ke jalan Allah dengan landasan ilmu yang jelas (bashiiroh). Namun (dalam) perkara mungkar yang telah jelas atau perkara ma’ruf yang telah jelas, maka ia dapat memerintahkannya jika hal itu sesuatu yang ma’ruf dan ia dapat melarangnya jika hal itu adalah suatu kemungkaran.

Adapun dakwah ia harus di dahului dengan ilmu karena siapa yang berdakwah tanpa ilmu maka ia akan lebih banyak merusak dari pada memperbaiki sebagaimana yang telah nampak. Maka menjadi kewajiban bagi setiap insan untuk belajar terlebih dahulu lalu selanjutnya berdakwah.

Adapun pada perkara-perka mungkar yang telah jelas atau pada perkara-perkara ma’ruf yang telah jelas, maka (orang awam itu) dapat melakukan amar ma’ruf dan nahi mungkar di dalamnya. )

d. Pengertian Akhlaqul Karimah

Setelah kita mengetahui makna dakwah, urgensi, tujuan dan segala sesuatu tentang kaifiyah menegakkannya, maka pada bab ini kami akan membawakan beberapa pembahasan dan penjelasan akhlaqul karimah, sebagai salah satu hasil pencapaian penegakan da’ wah dan buah dari tauhid pada jiwa dan diri manusia.

Akhlak secara etimologi

Dalam kamus umum bahasa Indonesia, susunan W.J.S Poerwadarminta, kata akhlak bermakna budi pekerti; watak; tabiat.

Sementara menurut para pakar yang kami nukil dari buku “Etika Islam, Pembinaan Akhlaqul Karimah, Suatu Pengantar” oleh Dr. H. Hamzah Ya’qub, Penerbit CV. Diponegoro Bandung, cet. VII adalah sebagai berikut:

“Perkataan akhlaq berasl dari bahasa ‘Arab jama’ dari (?) yang menurut logatnya diartikan budi-pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat.

Kalimat tersebut mengandung segi-segi persesuaian dengan perkataan khuluqun yang berarti: kejadian serta erat hubungannya dengan ?yang berarti pencipta dan yang berarti yang diciptakan.

Perumusan pengertian “Akhlaq” timbul sebagai media yang memungkinkan adanya hubungan baik antara khooliq dengan makhluq dan antara makhluq dengan makhluq.

Perkataan ini bersumber dari kalimat yang tercantum dalam al Qur’an:

.

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.”Qs. Al Qolam: 04

Demikian juga dari hadits Nabi SAW: ?. ?

“Sesungguhya aku telah diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlaq” (HR. Ahmad)”.

Akhlak secara etimologi

Masih kami kutip dari buku “Etika Islam, Pembinaan Akhlaqul Karimah, Suatu Pengantar” oleh Dr. H. Hamzah Ya’qub, Penerbit CV.Diponegoro Bandung, cet. VII, pengertian sepanjang terminologi yang dikemukakan oleh ulama akhlaq antara lain sebagai berikut: “Ilmu akhlaq ialah ilmu yang menentukan batas antara baik dan buruk, antara terpuji dan yang tercela, tentang perkataan atauperbuatan manusia lahir dan bathin.Ilmu Akhlaq adalah ilmu pengetahuan yang memberikan pengertian tentang baik dan buruk, ilmu yang mengajarkan pergaulan manusia dan menyatakan tujuan mereka yang terakhir dari seluruh usaha dan pekerjaan mereka.

Prof. Dr. Ahmad Amin dalam bukunya “Al Akhlaq” merumuskan pengertian Akhlaq sebagai berikut: “Akhlaq ialah suatu ilmu yang menjelaskan arti baik dan buruk, menerangkan apa yang seharusya dilakukan oleh setengah manusia kepada lainnya menyatakan tujuan yang harus dituju oleh manusia dalam perbuatan mereka dan menunjukkan jalan untuk nelakukan apa yang harus diperbuat”.

Adapun Drs. H. Ahmad Daeroby, M. Ag, menulis tentang pengertian akhlaq dalam sebuah artikelnya di majalah Risalah: ““Yang dimaksud dengan akhlaq dalam pemakaian kata sehari-hari adalah ‘akhlaq yang baik’ (al Akhlaqul Karimah). Misalnya dikatakan ‘orang itu berakhlaq baik’ artinya orang itu mempunyai akhlaq yang baik, ‘orang itu tidak berakhlak’ artinya orang itu tidak mempunyai akhlaq yang baik. Sebenarnya di samping akhlaq yang baik adapula akhlaq yang buruk akhlaq as Sayi’ah atau akhlaq radzilah)”

Selanjutnya beliau menulis: “Secara etimologi, “Akhlaq” adalah kata bahasa ‘Arab yang merupakan bentuk jamak dari “khuluq” yang artinya perangai atau tabiat. Dapat dibedakan antara khuluq dan kholqun. Hakikat makna khuluq yaitu gambaran batin manusia yang sebenarnya (yaitu jiwa dan sifat-sifatnya), sedang kholqun yaitu gambaran bentuk luarnya/ dzahirnya (raut muka, warna kulit, tinggi atau pendeknya, dan sebagainya). (Lihat Ibnu Katsier, An Nihayah 2:70)

Al Imam Ghazali berkata, “Bilamana orang mengatakan bahwa si A itu baik kholqun dan khulqunnya, maka si A itu baik sifat lahir dan bathinnya.”

Dalam pengertiqan sehari-hari, akhlaq umumnya disamakan dengan budi pekerti, kesusilaan atau sopan santun. Dalam bahasa Indonesia disebut juga moral atau ethio dalam bahasa Inggris.

Sedangkan dalam istilah, akhlaq dapat disimpulkan sebagai suatu sifat yang tertanam dalam jiwa yang peling dalam, yang darinya timbul perbutan-perbuatan yang mudah, tidak memerlukan pertimbangan terlebih dahulu. (lihat definisi akhlaq dari Ibnu Maskawaih dan Imam Al Ghazali dalam kitab Tahdzib al Akhlaq wa Tathir al Araq dan Kitab Ihya Ulumuddin)

Prof. Dr. Ahmad Amin memberikan definisi yang lain dari kedua definisi di atas, yaitu bahwa yang disebut akhlaq adalah kehendak yang dibiasakan. Artinya dari beberapa alternatif keinginan yang ditentukan salah satunya setelah ia mengalami kebimbangan kemudian ketentuan itu dibiasakan dilakukannya secara berulang-ulang, maka kebiasaan tersebut akan menjadi akhlaq.

e. Karateristik Akhlaqul Karimah

Setalah kita mengetahui makna akhlaq yang didefinisikan oleh para ahli, maka di bawah ini kami mencoba menukil pembahasan akhlaqul karimah dan karakteristiknya.

Dalam kamus umum bahasa Indonesia, karakteristik berarti tabiat; watak; sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang daripada yang lain.

Syaikh Abu Bakar Jabir Al Jazairi menjelaskan rangkum beberapa karakteristik Akhlaqul Karimah dalam kitabnya Minhajul Muslim yang diterjemahkan menjadi Ensiklopedi Muslim hal. 217.

Akhlaq yang baik dan penjelasaannya

Akhlak ialah instuisi yang bersemayam di hati tempat munculnya tindakan-tindakan suka rela, tindakan yang benar atau yang salah. Menurut tabiatnya, instuisi tersebut siap menerima pengaruh pembinaan yang baik, atau pembinaan salah kepadanya. Jika instuisi tersebut dibina untuk memilih keutamaan, kebenaran, cinta kebaikan, cinta keindahan, dan benci keburukan, maka itu menjadi trade-mark-nya dan perbuatan-perbuatan baik muncul daripadanya dengan mudah. Itulah akhlak yang baik, misalnya akhlaq lemah lembut, akhlaq sabar, akhlaq dermawan, akhlaq berani, akhlak adil, akhlak berbuat baik, dan lain sebagainya dariakhlak-akhlak yang baik, dan penyempurnaan diri.

Sebaliknya, jika instuisi tersebut disia-siakan, tidak dibina dengan pembinaan yang proporsional, bibit-bibit kebaikan di dalamnya tidak dikembangkan, dan dibina dengan pembinaan yang buruk hingga keburukan menjadi suatu yang dicintainya, kebaikan menjadi sesuatu yang dibencinya, dan perbuatan serta perkataan buruk, misalnya berkhianat, bohong, keluh-kesah, rakus, kasar, dengki, jorok, dan lain sebaginya.

Oleh karena itu, Islam memuji akhlak yang baik, menyerukan kaum muslimin membinanya, mengembangkannya di hati mereka. Islam menegaskan bahwa bukti keimanan ialah jiwa yang baik, dan bukti keislaman ialah akhlaq yang baik. Allah Ta’ala menyanjung Nabi-nya karena akhlaknya yang baik dalam firmannya: “Dan sesungguhnya kamu benar-benar berakhlaq yang agung” Al Qolam: 4

Allah menyuruh rasululloh saw berakhlak yang baik dalam firmannya,

Artinya: “Tolaklah kejahatan itu dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yangsangat setia.” Fushilat: 34

Allah Ta’ala menjadikan akhlak yang baiuk sebagai sarana untuk mendapatkan syurga tertinggi dalam firmannya,

?(133)?

Artinya: “Dan bersegeralah kalian kepada ampunan dari rabb kalian dan kepada syurga yang luasnya seluas dalngit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa. Yaitu orang-orang yang menafkahkan hartanya,baik di waktu lapang maupun di waktu yang sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (Kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan.” Qs. Ali Imron: 133-134

Allah Ta’ala mengutus Rosul saw untuk menyempurnakan akhlaq. Rosul saw bersabda yang artinya: “Sesunguhnya aku hanya diutus untuk menyempurnakan akhlaq.” HR Al Bukhary

Rosululloh menjelaskan kebaikan akhlaq yang baik dalambanyak sabda-sabdanya, misalnya berikut ini, “Tidak ada sesuatu yang lebih berat dalam timbangan dari akhlaq yang baik” HR Ahmad, dan Abu Dawud

Rasululloh saw bersabda, “Kebaikan adalah akhlaq yang baik.” HR Al Bukhary

Rasululloh saw bersabda, “Kaum mu’minin yang paling sempurna imanya ialah orang yang paling baik akhlaqnya di antara mereka.” HR Ahmad dan Abu Dawud

Rasululloh saw bersabda, “Sesungguhnya orang yang paling aku cintai di antara kalian, dan orang yang paling dekat duduknya denganku pada hari Kiyamat ialah orang yang paling baik akhlaknya di antara kalian.” HR Al Bukhary

Rasululloh saw ditanya tentang amal perbuatan yang palingbaik, kemudia beliau bersabda, “Akhlaq yang baik.”

Rasululloh SAW ditanya tentang sesuatu yang paling banyak memasukan orang ke syurga, maka beliau bersabda, “Bertaqwa kepada Allah dan akhlak yang baik.” HR AtTirmidzi yang menshahihkannya

Rosul saw bersabda, “Sesungguhnya seorang hamba dengan akhlaq yang baik pasti dapat mencapai derajat akhirat yang agung dan tempat yang mulia, kendati ibadahnya lemah” HR Ath Thatbrani dengan sanad yang baik.

Al Hasan Al Bashri berkata, “Akhlak yang baik ialah wajah yang berseri-seri, memberian bantuan, dan tidak mengganggu”

Abdulloh bin Al Mubarok berkata, “akhlak yangbaik itu ada pada tiga hal; Menjauhi hal-hal yang diharama, mencari hal-hal yang halal, dan memperbanyak menanggungh tanggungan”

Ulama lain berkata’ “akhlak yang baik ialah dekat dengan manusia dan asing di tengah-tengah mereka.”

Ulama lain berkata, “Akhlaq yang baik ialah menahan diri dari mengganggu dan kesabaran seorang mu’min.”

Ulama lain berkata, “Akhlak yang baik ialah anda tidak mempunyai keinginan kecuali pada Allah ta’ala”

Semua jenis definisi di atas mempunyai bagian-bagiannya. Adapun definisi hakikat akhlak ialah seperti yang telah disebutkan.

Ulama berkata tentang akhlak yang baik, “hendaknya seorang banyak merasa malu, sedikit mengganggu, banyak kebaikannya, benar tutur katanya, sedikit bicara, banyak kerja, sedikit salahnya, sedikit berlebih-lebihan, berbuat baik, meyambung hubungan kekerabatan, tenang , sabar, bersyukur, ridho, lembut, menepati janji, tidak meminta-minta, tidakmelaknat, tidak menghina,tidak mengadu domba, tidak menggunjing, tidak gegabah, tidak dengki, tidak kikir, berwjah ceria, mencintai seseorang karena Allah, membenci orang karena Nya, ridho kepada Nya, dan murka karena Nya.”

Syaikh Abu Bakar Jabir Al Jazairi juga merangkum beberapa karakteristik Akhlaqul Karimah dalam kitabnya Minhajul Muslim yang diterjemahkan menjadi Ensiklopedi Muslim hal. 217.

Akhlaq sabar dan bertahan terhadap gangguan

Di antara akhlaq baik seorang muslm ialah sabar. Sabar ialah menahan diri terhadap apa yang dibencinya, atau menahan sesuatu yang dibencinya dengan ridho dan rela.

Jadi orang muslim menahan diri terhadap apa yang dibencinya seperti beribadah kepada Allah Ta’ala, dan taat kepada Nya. Ia mewajibkan sifat tersebut pada dirinya, menahan dirinya dari bermaksiat kepada Allah Ta’ala dengan tidak mengizinkan mendekati kemaksiatan, dan mengerjakannya kendati dirinya menghendaki. Ia menahan diri terhadap ujian yang menimpanya dengan tidak membiarkannya berkeluh kesah, atau marah, sebab keluh kesah terhadap sesuatu yang telah hilang adalah penyakit, dan keluh kesah terjhadap sesuatu yangakan terjadi adalah tidak ridho, sedang tidak ridho terhadap takdir, berarti mengecam Allah yang Maha Esa, dan Maha Perkasa. Dalam bersabar terhadap itu semua, orang muslim bersenjatakan diri dengan ingat pahala ketaatan yang besar dari Allah Ta’ala, dan ingat siksa pedih Allah Ta’ala untuk orang-orang yang dimurkai Nya, dan orang-orang yang berkasiat kepada Nya. Selain itu, iai ingat bahwa takdir-takdir Allah akan senantiasa berlangsung, keputusan Nya adalah adil, dan hukumnya pasti terjadi, meski seorang hamba bersabar atau tidak bersabar. Hanya saja sabar itu menjanjikan pahala dan tidak sabar itu menjanjikan dosa.

Karena sabar dan tidak sabar adalah akhlaq yang didapatkan dengan pelatihan dan mujahadah (usaha maksimal), maka setelah orang muslim meminta Allah Ta’ala memberinya sifat sabar, ia ingat sifat sabar dengan ingat perintah kepada sabar dan ingat pahala yang dijanjikan bagi orang sabar, misalnya dalil-dalil berikut:

Firman Allah ta’ala:

?

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung”. Qs. Ali Imron: 200

Artinya: “Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu

sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu`”. Qs. Al Baqoroh: 45

?

Artinya: “Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan”. Qs. An

Nakhl: 127

Artinya: “Dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)”. Qs. Luqman: 17

Artinya: “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun” Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk”. Qs. Al Baqoroh: 155-157

Artinya: “Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”. Qs. An Nahl: 96

Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami. Qs. As Sajdah: 24

Artinya: “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas”. Qs. Az Zumar: 10

Sabda Rosul SAW yang artinya: “Sabar adalah cahaya”

Sabda Rosul SAW , yang artinya: “Dan barang siapa menahan diri (dari hal-hal haram dan dari meminta-minta pada manusia), maka Allah membuatnya suci.

Barang siapa meminta kaya maka Allah akan mengkayakannya. Dan barang siapa meminta sabar maka Allah menyabarkannya. Seseorang tidak diberi pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada pemberian berupa sabar” HR Muslim

Sabda Rosul SAW, Artinya: “Luar biasa urusan orang mu’min. Sesungguhnya semua urusannya itu baik, dan itu semua tidak dimiliki kecuali oleh orang mu’min. jika ia mendapatkan kebahagiaan, ia bersyukur, dan itu sangat baik baginya. Jika ia ditimpa cobaan, ia bersabar, dan itu sangat baik baginya” HR Al Bukhary

Ketika salah satu putri Rosul SAW mengutus seseorang kepada beliau untuk meminta kedatangan beliau sebab anak putrinya meninggal dunia, maka beliau bersabda kepada utusan putrinya, “Sampaikan salamku kepadanya dan katakana kepadanya, ‘Sungguh Allah berhak atas apa yang telah Dia ambil, dan berhak atas apayang pernah Dia berikan. Segala hal di sisi-Nya itu sesuai dengan ajal yang telah ditentukan. Olehkarena itu, hendaklah ia bersabar, dan mengharapkan pahala-Nya’.” HR Al Bukhary

Sabda Rosul SAW, “Allah azza wa jalla berfirman, ‘jika Aku menguji hambaku dengan kedua orang anaknya, kemudian ia bersabar, Aku akan mengganti keduanya dengan syurga’.” HR Al Bukhary

Sabda Rosul SAW, “Barang siapa Allah menghendaki kebaikan padanya, maka Dia mengujinya.” HR Al Bukhary

Sabda Roasul SAW, “Sesungguhnya besarnya pahala itu sesuai dengan besarnya ujian. Jika Allah mencintai suatu kaum, Dia menguji mereka. Maka barang siapa ridho maka ia mendapatkan keridhoan dan barang siapa murka maka ia mendapatkan kemurkaan.” HR At Tirmidzi dan Ibnu Majah

Sabda Rosul SAW “Ujian senantiasa menimpa seorang mu’min pada jiwa, anak, dan hartanya, hingga ketika ia menghadap Allah,ia tidak mempunyai kesalahan.” HR At Tirmidzi

Adapun bertahan terhadap gangguan, maka termasuk sabar, namun lebih sulit. Bertahan terhadap gangguan adalah komoditi orang- orang yang jujur, dan symbol orang-orang sholih. Bertahan terhadap gangguan ialah seorang muslim disiksa di jalan Allah Ta’ ala, kemudia ia bersabar, bertahan, tidak membalas dengan kejahatan yang sama, tidak balas dendam untuk dirinya sendiri, tidak mendahulukan kepentingan dirinya sendiri selagi penyiksaan tersebut terjadi di jalan Allah Ta’ala, dan tetap berjalan menuju keridhoaan-Nya. Suri tauladan baginya dalam hal ini ialah para Rosul yang sholih, sebab jarang sekali di antara mereka

yang tidak disiksa di jalan Allah Ta’ala dan tidak diuji dalam perjalanan mereka kepadanya.

Abdulloh bin Mas’ud Radhiyallaah ‘Anhu berkata, “Sepertinya aku melihat Rosul SAW bercerita tentang salah seorang nabi yang dipukuli kaumnya hingga terluka, kemudian nabi tersebut mengusap darah dari wajahnya sambil berkata, “Ya Allah, ampunilah kaumku, karena mereka tidak mengetahui’.”

Itulah salah satu daya tahan terhadap siksaan yang dimiliki Nabi Allah. Contoh lain ialah: pada suatu hari Rosul saw membagi harta, kemudian salah seorang ‘Arab dusun berkata, “Ini pembagian yang tidak dimaksudkan untuk mencari keridhoaan Allah.”

Ucapan tersebut terdengar oleh Rosul SAW dan wajah beliau seketika merah karenanya, kemudian beliau bersabda, “semoga Allah merahmati saudaraku Musa, ia disiksa lebih keras dari ini semua, namun ia tetap bersabar”. Muttafaqun ‘Alaihi

Khobab bin Al ‘Aroth Radhiyallaah ‘Anhu berkata: “kami mengadu kepada Rosul saw yang ketika itu sedang bersandar di bawah kain Ka’bah, dan kami berkata, ‘Kenapa engkau tidak meminta untuk kita?’, ‘Kenapa engkau tidak berdo’a untuk kita?’ Rosul SAW bersabda, ‘Sungguh salah seorang sebelum kalian ditangkap, dibuatkan galian, ia dimasukkan ke dalamnya, gergaji didatangkan kepadanya, kemudian diletakkan di kepalanya hingga kepalanya terbelah menjadi dua, dan ia disisir dengan sisir dari besi yang menyisir daging dan tulangnya, namun hal tersebut tidak memalingkannya dari agama Allah.” HR Al Bukhary

Allah Ta’ala bercerita kepada kita tentang para rasul, dan tentang ucapan mereka ketika mereka bertahan terhadap siksaan yang mendera mereka,

?

“Mengapa kami tidak akan bertawakkal kepada Allah padahal Dia telah menunjukkan jalan kepada kami, dan kami sungguh-sungguh akan bersabar terhadap gangguan-gangguan yang kamu lakukan kepada kami. Dan hanya kepada Allah saja orang-orang yang bertawakkal itu, berserah diri”. Qs. Ibrohim: 12

‘Isa bin Maryam berkata kepada Bani Israel, “Telah dikatakan kepada kalian sebelum ini bahwa gigi dibalas dengan gigi, dan hidung dibalas dengan hidung. Sekarang aku katakan kepada kalian, ‘Janganlah kalian membalas keburukan dengan keburukan yang sama. Barangsiapa memukul pipi kananmu maka berikan pipi kirimu kepadanya. barangsiapa mengambil bajumu maka berikan sarungmu kepadanya”

Sebagian shahabat-shahabat Rosul SAW berkata, “Dulu kami tidak menganggap keimanan seseorang itu sebagai keimanan jika ia tidak bersabar terhadap siksa.”

Berdasarkan contoh-contoh hidup tentang sabar ini, orang muslim hidup dengan sabar, mengharap ridho Allloh SWT, bertahan, tidak mengeluh, tidak cemberut, tidak membalas keburukan dengan keburukan yang sama samun membalas kejahatan dengan kebaikan, mema’afkan, dan sabar. Allah Ta’ala berfirman,

?

“Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan.” Qs. Asy Syura’: 43

Akhlaq bertawakkal kepada Allah Ta’ala dan Percaya Diri

Orang muslim tidak meyakini tawakkal kepada Allah SWT dalam segala hal sebagai akhlaq semata, namun ia meyakini sebagai kewajiban agama dan aqidah Islam, karena Allah Ta’ala memerintahkannya dalam firman-firman Nya sbb:

“Dan hanya kepada Allah hendaklah kalian bertawakkal, jika kalian benar-benar orang yang beriman” Qs. Al Maidah: 23

?

“Dan hanya kepada Allah hendaknya orang-orang yang beriman itu bertawakkal.” Qs. At Taghobun: 13

Karena itulah, tawakkal secara mutlak kepada Allah Ta’ala adalah bagian dari aqidah seorang mu’min kepada Allah ta’ala.

Ketika seorang mu’min beribadah kepada Allah dengan bertawakkal kepada Nya dan menghadapkan diri secara total ke hadapan Nya, maka ia tidak memahami tawakkal seperti dipahami orang-orang bodoh tentang Islam dan musuh-musuh aqidah kaum muslimin yang memahami bahwa tawakkal itu sekedar ucapan di bibir tanpa dipahami akal, atau tawakkal itu membuang sebab-sebab, atau tidak kerja, atau puas dengan kehinaan di bawah bendera tawakkal kepada Allah Ta’ala, dan ridho dengan takdir yang terjadi padanya.

Tidak seperti itu, orang muslim memahami bahwa tawakkal yang merupakan bagian langsung dari imannya dan aqidahnya ialah taat kepada Allah Ta’ala dengan menghadirkan semua perbuatan yanghendak ia kerjakan. Ia tidak berambisi kepada buah tanpa memberikan sebab-sebabnya, dan tidak mengharapkanhasil tanpa meletakan pengantarnya. Hanya saja pembuahan sebab – sebab tersebut dan produktivitas pengantar-pengantar tersebut ia serahkan sepenuhnya kepada Allah Ta’ala, karena Dia saja Yang Maha Kuasa atas hal tersebut, dan bukan yang lain.

Jadi tawakkal bagi orang muslim ialah perbuatan, dan harapan dengan disertai hati yang tenang, jiwa yang tentram, dan keyakinan kuat bahwa apa yang dikehendaki Allah Ta’ala pasti terjadi, apa yang tidak dikehendaki Nya tidak akan terjadi, dan Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat baik.

Karena orang muslim mempercayai ketentuan-ketentuan Allah Ta’ala pada alam semesta, maka ia menyiapkan sebab-sebab yang diperlukan bagi semua perbuatannya, berusaha sekuat tenaga menghadirkan sebab-sebab tersebut, dan menyempurnakannya. Ia tidak meyakini bahwa sebaba-sebab adalah satu-satunya jaminan untuk tercapainya tujuan dan kesuksesan usaha. Ia tidak meyakini peletakan sebab-sebab di atas yang diperintahkan Allah Ta’ala yang wajib ia taati sebagaimana ia taat kepadaNya dalam perintah dan larangan Nya. Adapun pencapaian hasil, dan sukses, maka orang muslim menyerahkan kepada Allah, karena hanya Dia Yang Maha Kuasa atas hal tersebut dan bukan orang lain. Apa yang dikehendaki Allah Ta’ala pasti terjadi, dan apa yang tidak dikehendaki Nya pasti tidak akan terjadi. Ya, berapa banyak orang yang bekerja keras, namun ia tidak sempat memakan hasil usahanya dan berapa banyak petani yang tidak memanen apa yang telah ia tanam.

Dari sinilah, orang muslim meyakini bahwa hanya bersandar kepada sebab-sebab dan menganggapnya sebagai puncak segala sesuatu dalam merealisasi tujuannya adalah kekafiran, kesyirikan, dan ia berlepas diri dari padanya. Ia juga berkeyakinan bahwa meninggalkan sebab-sebab yang diperlukan bagi perbuatannya padahal ia mampu menyiapkan dan menyediakannya adalah kefasikan, dan kemaksiatan yang ia haramkan, dan meminta ampunan kepada Allah Ta’ala dan dari keduanya.

Dalam pandangannya terhadap sebab-sebab ini, orang muslim menyandarkan nilai filosofinya kepada ruh ke-Islaman dan ajaran Nabinya. Rosululloh SAW dalam seluruh peperangannya yang panjang tidak pernah sekalipun memasuki arena perang hingga beliau menyiapkan perbekalan untuknya, dan menyiapkan sebab-sebab untuknya, misalnya memilih lokasi perang, dan pengaturan waktunya.

Diriwayatkan dari Rasululloh SAW bahwa beliau tidak memulai penyerangan di hari yang panas kecuali setelah suasananya menjadi dingin, dan beliau melakukan penyerangan setelah membuat rencana matang, dan mengatur barisan-barisan tentaranya. Setelah menyelesaikan persiapannya yang matang, beliau menengadahkan kedua tangannya berdo’a kepada Allah azza wa jalla,

(())

Artinya: “Ya Allah yang menurunkan Al Kitab, menjalankan awan, dan mengalahkan pasukan sekutu, hancurkan musuh-musuh itu, dan menangkan kami atas mereka” Muttafaqun ‘Alaihi

Begitu juga petunjuk beliau dalam menggabungkan sebab-sebab materi dengan sebab-sebab immaterial, menyerahkan kesuksesan usahanya kepada Allah Ta’ala, dan kehendak Nya.

Contoh lainnya, Rasululloh SAW menunggu perintah Allah ta’ala untuk hijrah ke Madinah setelah sebelumnya sahabat-sahabat terkemuka hijrah ke sana, dan betul perintah tersebut datang kepada beliau. Langkah-langkah yang disusun Rasululloh SAW untuk kesuksesan hijrahnya sebagai berikut:

  1. Memanggil sahabat pilihan yang tidak lain adalah Abu Bakar Ash Shidiq untuk menemani beliau dalam perjalannya ke negeri hijrah.
  2. Menyiapkan bekal perjalanan, makanan dan minuman. Asma’ binti Abu Bakar mengikat perbekalan tersebut dengan ikat pinggangnya, hingga ia dijuluki “Wanita yang memiliki dua ikat pinggang”
  3. Menyiapkan hewan kendaraan yang siap dinaiki dalam perjalanan yang sulit dan panjang.
  4. Menyertakan seorang penunjuk jalan yang mengetahui jalan-jalan yang sulit agar orang tersebut menjadi pemandu dalam perjalanan yang sulit ini.
  5. Ketika beliau hendak keluar dari rumahnya yang dikepug musuh-musuhnya -agar beliau tidak bisa keluar dari padanya-, maka beliau menyuruh anak pamannya, Ali bin Abi Tholib ? untuk tidur di ranjangnya untukmengelabui musuh-musuhnya yang menunggu di luar rumah yang akan membunuhnya. Setelah itu, beliau keluar dari rumah dengan tenang tanpa diketahui oleh musuh -musuhnya.
  6. Ketika orang-orang musyrikin mengejar beliau, dan sibuk mencari beliau bersama Abu Bakar yang ikut bersama beliau, maka beliau masuk ke Gua Tsur dan berlindung diri di dalamnya dari penglihatan mata orang-orang yang mencari dan dendam kepada beliau.
  7. Ketika Abu Bakar berkata, “Seandainya salah seorang dari mereka melihat ke bawah kakinya, mereka pasti bisa melihat kita, wahai Rasululloh!” Maka Rosul SAW bersabda, “Bagaimana dugaanmu terhadap dua orang, wahai Abu Bakar, bahwa pihak ketiga adalah Allah?”

Dari peristiwa-peristiwa di atas yang memperlihatkan hakikat-hakikat iman, dan tawakkal itu bisa dilihat bahwa rosululloh SAW tidak memungkiri sebab-sebab, tidak bergantung hanya ke padanya, dan sebab terakhir bagi orang mu’min ialah menghadapkan dirinya kepada Allah Ta’ala, dan menyerahkan seluruh persoalannya kepada Nya dengan percaya diri, dan hati yang tenang.

Ketika Rosul SAW mengerahkan semua sarana kepada keselamatan hingga beliau berada di gua gelap yang dihuni kalajengking dan ular-ular, maka beliau berkata dengan yakin dalam kapasitasnya sebagai orang mu’min dan tawakkal kepada sahabatnya yang dihinggapi ketakutan, “Engkau jangan sedih, sesungguhnya Allah bersama kita. Hai Abu Bakar, bagaimana menurutmu terhadap dua orang, bahwa pihak ketiga adalah Allah?”

Dari petunjuk nabi dan pengajrannya inilah orang muslim mengambil sebab-sebab. Jadi bukan pembuat bid’ah, namun ia pengikut setia junjungannya.

Adapun bergantung kepada diri sendiri, maka orang muslim tidak memahaminya seperti pemahaman orang-orang yang tidak kenal dengan diri mereka sendiri karena kemaksiatan mereka. Mereka berpendapat bahwa percaya diri ialah: memutuskan hubungan dengan Allah Ta’ala, seorang hamba itu pencipta seluruh amal perbuatannya, ia mewujudkan kesuksesan dengan dirinya sendiri, dan bahwa Allah ta’ala tidak memiliki keterlibatan di dalamnya. Maha Besar Allah atas apa yang mereka pahami.

Ketika orang muslim berpendapat bahwa hukumnya wajib bergantung pada diri sendiri dalam amal perbuatannya, maka yang ia maksudkan ialah bahwa ia tidak menampakan kebutuhannya kepada amal perbuatannya, dan tidak menggantungkannya kepada orang lain. Jika ia ingin memenuhi kebutuhannya dengan dirinya sendiri, ia tidak meminta tolong siapapun kecuali kepada Allah Ta’ ala, karena meminta tolong kepada selain Allah adalah menggantungkan hati kepada selain Allah, dan jelas sikap ini tidak disukai dan tidak diridhoi oleh orang muslim.

Dalam hal ini, orang muslim, berjalan di atas jalan orang-orang sholih, dan ketentuan orang-orang yang jujur. Jika cambuk salah seorang dari mereka terlepas dari tangannya ketika ia mengendarai kudanya maka ia turun ke tanah untuk mengambilnya, dan tidak mehyuruh orang lain untuk mengambilkannya. Rosul SAW membai’at orang muslim untuk mendirikan sholat, membayar zakat dan tidak meminta kepada siapapun selain kepada Allah untuk memenuhi kebutuhannya.

Jika orang muslim hidup di atas aqidah tentang tawakkal kepada Allah Ta’ala dan bergantung kepada diri sendiri, ia mengisi aqidahnya dan mengembangkan akhlaqnya dengan cara menghadapkan hati dari waktu ke waktu kepada ayat – ayat al Qur’an dan hadits –hadits nabawi. Ia mengambil aqidah, dan akhlaq dari keduanya. Ayat-ayat al Qur’an, dan hadits-hadits nabawi adalah sebagai berikut:

Firman Allah ta’ala:

?

Artinya: “Dan bertawakkallah kepada Allah Yang Hidup (Kekal) Yang Tidak Mati. ” Qs. Al Furqon: 58

Artinya: “Dan mereka menjawab, ‘Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung’.” Qs. Ali Imron: 173

Artinya: “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakkal.” Qs. Ali Imron: 159

Rosul SAW bersabda yang artinya: “Seandainya kalian bertawakkal kepada Allah dengan tawakkal yang sebenar-benarnya, maka kalian pasti diberi rizki sebagaimana burung diberi rizki, ia pergi pada pagi hari dalam perut kosong, kemudian pulang pada sore harinya dalam keadaan kenyang.” Diriwayatkan At Tirmidzi yang menghasankannya.

Sabda Rosul SAW jika keluar dari rumahnya, artinya: “Dengan nama Allah, aku bertawakkal kepada Allah, dan tidak ada daya dan upaya kecuali Allah”

Sabda Rosul SAW tentang tujuh puluh ribu orang yang masuk usyurga tanpa hisab dan siksa yang artinya: “Mereka orang –orang yang tidak minta dibuatkan ruqyah, tidak memkay (kay; melakukan pengobatan dengan menusukan besi panas kepa bagian tubuh yang sakit, penukil) dirinya, tidak berthatayyur, dan bertawakkal kepada Allah.” Muttafaqun ‘alaihi

Itsar dan cinta kebaikan

Di antara akhlak orang muslim yang ia dapatkan dari ajaran Islam dan keislamannya yang baik ialah itsar dan cinta kebaikan.

Di manapun orang muslim mendapatkan kesempatan untuk melakukan itsar, maka ia mendahulukan orang lain atas dirinya dan mengutamakanny atas dirinya. Bias jadi ia lapar agar orang lain kenyang dan ia haus agar orang lain tidak kehausan. Bahkan bisa jadi ia meninggal dunia demi kehidupan orang-orang lain. Ini bukan hal yang mengherankan bagi orang muslim yang jiwanya kenyang dengan makna-makna kehidupan, jiwanya tercetak dengancetakan kebaikan dan cinta kebaikan. Itulah cetakan Allah SWT dan cetakan siapakah yang lebih baik daripada cetakan Allah?

Dalam itsarnya dan cintanya kepada kebaikan, orang muslim berjalan di atas jalannya orang-orang shalih sebelum mereka dan generasi awal yang sukses yang dikatakan Allah ta’ala:

?

“Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka

berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung”. Al Hasyr: 9

Semua akhlak yang baiki dan terpuji orang muslim itu bersumber dari mata air hikmah nabi SAW atau dari kucuran rahmat ilahi,

misalnya sabda Rosul SAW yang keshahihahnnya disepakati oleh pakar hadits:

“Salah seorang dari kalian tidak beriman, hingga mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya”

Atau firman Allah SWT:

?

“Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka

berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung”. Al Hasyr: 9

Perasaanorang mukmin terhadap cinta kebaikan, dan itsar atas diri sendiri, keluarga dan anak itu semakin kuat, dan semakin

berkembang.

Orang muslim hidup menyatu dengan Allah Ta’ala, lisannya selalu basah dzikir kepada Nya dan hatinya bergelora dengan cinta

kepada Nya. Jika ia memperhatikan tanda-tanda kekuasan Allah, ia mendapatkan banyak sekali pelajaran berharga. Jika ia

menghadap hatinya kepada ayat-ayat seperti berikut:

“Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan) nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya”. Muzammil: 9

Dan firman Allah ta’ala:

?

“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karuniaNya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri”. Fathir: 29-30

Maka ia menganggap remeh dunia, menghinanya, dan lebih mengutamakan akhirat. Orangyang kondisi dirinya seperti itu bagaimana tidak menyedekahkan hartanya dengan dermawan, tiodak mencintai saudara-saudaranya, dan tidak itsar terhadap orang lain?

Karena ia mengetahui bahwa apa yang ia berikan hari ini, maka ia kaan mendapatkannya lebih baik dan lebih besar pahalanya kelak di akhirat?

Berikut lima contoh itsar orang muslim, dan kecintaannya kepada kebaikan, saya ketengahkan dengan benar bagi orang-orang yang mengetahui:

a. Di Daar An Nadwah, tokoh-tokoh Quraisy menerima dengan aklamasi pendapat Abu Marrah yang mengusulkan agar Rosululloh SAW dibunuh di rumahnya sendiri. Rasululloh SAW mendengar keputusan tersebut. Ketika beliau telah mendapatkan izin untuk hijroh ke madinah, maka beliau bertekad bulat untuk hijrah, dan mencari orang yang mau tidur di ranjangnya yang pada malam hari untuk mengecoh orang-orang Quraisy yang ingin membunuh beliau, kemudian beliau meninggalkan rumah, dan membiarkan orang -orang Quraisy menunggu beliau bangun tidur. Rasulullah SAW berkesimpulan bahwa Ali bin Abu Thalib ? Adalah orang yang paling cocok mengorbankan nyawanya. Rasulullah SAW menawarkan rencananya kepada Ali bin Abi Thalib ?, dan Ali bin Abu Thalib pun atnpa ragu sedikit pun memberikan nyawanya untuk Rasulullah SAW. Kemudian Ali bin Abu Thalib ? tidur diatas ranjang Rasulullah SAW tanpa mengetahui kapan tangan-tangan jahat akan menangkapnya, menyerahkannya kepada orang-orang yang haus darah, dan mempermainkan dirinya dengan pedang-pedang mereka. Ali bin Abu Thalib tidur, dan itsar kepada Rasulullah SAW dengan kehidupannya. Ia membuat percontohan tentang pengorbanan dengan nyawa dengan usia yang amat muda belia. Begitulah orang Muslim berbuat itsar atas dirinya, dan dermawan dengan nyawanya, dan dermawan dengan nyawa adalah puncak kedermawanan.

b. Hudzaifah Al-Adawayu berkata, “Pada Perang Yarmuk, aku mencari anak pamanku dengan membawa sedikit air, Aku berkata,’Jika anak pamanku akan meninggal dunia, aku akan memberinya air dan mengusap wajahnya dengan air.’ Ketika aku dapat menemukannya, aku berkata,’Bagaimana kalau engkau aku beri minum?’ Ia memberiisyarat kepadaku bahwa ia ingin minum, tiba-tiba orang lain berkata, ‘Air, air.’Anak pamanku memberi isyarat kepadaku agar aku mendatangi orang tersebut. Aku pun mendatangi orang tersebut, dan ternyata orang tersebut adalah Hisyam bin Al Ash. Aku berkata,’ Bagaimana kalau engkau aku beri air minum?’ Hisyam bin Al-ash mendengar suara orang lain,’Air, air.’ Hisyam bin Al-ash memberi isyarat kepadaku agar aku pergi kepada orang tersebut. Aku pun mendatangi orang tersebut, namun ternyata orang tersebut telah meninggal dunia. Aku balik ke tempat Hisyam bin Al-ash, ternyata ia telah meninggal dunia, kemudian aku balik ke tempat anak pamanku, ternyata ia telah meninggal dunia. Semoga Allah SWT merahmati mereka semua. Begitulah ketiga syuada’ di atas membuat contoh tentang itsar, dan mendahulukan orang lain atas dirinya. Itulah Akhlak orang Muslim dalam hidup ini.

c. Diriwayatkan bahwa tiga puluh orang lebih berkumpul dirumah Hasan Al-Anthaki. Mereka hanya memiliki roti yang terbatas dan tidak bisa mengenyangkan. Mereka meremukkan roti tersebut, memadamkan lampu, dan duduk bersama untuk memakannya.

Ketika tempat roti tersebut diberesi, ternyata roti tersebut masih utuh tidak berkurang sedikit pun, karena tidak seorang memakannya karena ingin itsar terhadap saudaranya, dan mereka semua tidak memakannya. Begitulah semua orang muslim yang kelaparan berbuat itsar terhadap saudara-saudaranya, dan mereka orang-orang yang melakukan itsar.

d. Imam Al Bukhary dan Imam Muslim meriwayatkan bahwa Rosul SAW mendapatkan tamu, namun keluarganya tidak memiliki makanan sedikitpun, kemudian salah seorang dari kaum Anshor menemui beliau, lantas pergi membawa tamu tersebut ke rumahnya.

Di rumahnya, shahabat dari kaum Anshor tersebut menyuguhkan hidangan ke hadapan tamunya, dan menyuruh isterinya mematikan lampu. Ia menggerak-gerakkan tangannya seperti orang makan, padahal ia tidak makan sedikitpun, hingga tamunya memakan habis hidangannya. Ia berbuat itsar kepada tamunya atas dierinya sendiri, dan keluarganya. Keesokan harinya, Rosul SAW bersabda kepada shahabat dari kaum anshor tersebut, “Sungguh Allah sangat ta’jub dengan penghormatanmu kepada tamumu tadi malam”. Ayat berikutpun turun,

?

“Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung”. Al Hasyr: 9

e. Seseorang berkunjung kepada Bisyr bin Al Haris yang sakit parah, dan meminta sesuatu kepadanya. Kemudain Bisyr bin Al Haris melepas baju yang dikenakannya, dan memberikannay kepada orang tersebut. Sebagai gantinya, ia meminjam baju hingga ia meninggal dunia dalam keadaan mengenakan pakaian pinjaman tersebut.

f. Kelima contoh-contoh hidup tentang akhlaq orang muslim dalam itsar, dan cinta kebaikan di atas sengaja saya sebutkan agat setiap muslim memasukan ke dalam hatinya yang kenyang dengan ruh kebaikan dan itsar, dan bisa melanjutkan pelaksanaan misi akhklaqnya dalam hidupnya, karena ia adalah seorang muslim sebelum seagla sesuatu.

Akhlaq Adil dan Pertengahan

Orang muslim meyakini bahwa keadilan dengan artinya yang universal adalah kewajiban yang paling diwajibkan, karena Allah Ta’ ala memerintahkan dalam banyak firman Nya, di antaranya:

Firman Allah SWT: “Sesunggunhnya Allah menyuruh berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat.” Qs. An Nakhl: 90

Allah Ta’ala menjelaskan bahwa Dia mencintai orang-orang yang berbuat adil, “Dan berlaku adillah, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat adil.” Qs. Al Hujurot: 9

Sebagaimana Allah memerintahkan adl dalam perkataan, Dia juga memerintahkan adil dalam hukum, “Dan apabila kalian berkata, maka hendaklah kalian berlaku adil kendatipun di adalah kerabat.” Qs. Al An’am: 152

Firman Allah ta’ala, “Sesungguhnya Allah menyuruh kalian menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kalian menetapkan hukum di antara manusia supaya kaalian berbuat adil.” Qs. An Nisaa: 58

Oleh karena itu, orang muslim adil dalam ucapan dan perbuatannya. Ia berbuat adil dalam segala hal hingga menjadi akhlaq yang tidak terpisahkan darinya. Hasilnya, keluarlah darinya ucapan-ucapan dan perbuatan-perbuatan yang adil dan jauh dari kedzaliman. Ia menjadi orang yang adil, tidak tertarik kepada hawa nafsu, tidak condong kepada syahwat, dan tidak cinta dunia. Oleh karena itu, ia berhak mendapatkan cinta Allah ta’ala, keridhoannya, kemualiaanNya, dan nikmatNya, karena Allah Ta’ala menjelaskan bahwa dia mencintai orang-orang yang asil, dan rosululloh SAW menjelaskan tentang kemuliaan mereka di sisi Allah SWT dengan sabdanya:

“Sesungguhnya orang-orang yang adil di sisi Allah berada di mimbar-mimibar dari cahaya, yaitu orang-orang yang adil dalam hukum mereka, keluarga mereka, dan (amanah) yang diberikan kepada mereka.” HR Muslim.

Beliau juga bersabda, “Ada tujuh orang yang dilindungi Allah di bawah lindungan Nya pada saat tidak ada perlindungan kecuali lindunganNya, yaitu pemimpin yang adil,pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah SWT, lelaki yang hatinya menyatu dengan masjid, dua orang yang saling mencintai karena Allah, keduannya bertemu karenaNya dan berpisah karenaNya, seorang lelaki yang diajak berzina oleh perempuan yang berkedudukan dan cantik kemudian ia berkata, ‘Sesungguhnya aku takut kepada Allah,’ orang yang bersedekah kemudioanmerahasiakannya hingga tangan kirinya tidakmengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya, dan orang yang menyendiri dzikir kepada kemudian air mata mengucur dari kedua matanya.” HR Al Bukhari

Adil itu mempunyai fenomena-fenomena yang baik sekali. Di antaranya sebagai berikut:

1. Adil kepada Allah SWT dengan tidak menyekutukannya dengan sesuatu apapun dalam mebnyembahNya dan sifat-sifatNya, taatk epadaNya, dzikir kepadaNya dan bersyukur kepadaNya.

2. Adil dalam memberikan keputusan hukum kepada manusia dengan memberikanhak kepada pemiliknya.

3. Adil di antara istri-istrinya dan anak-anak dengan tidak melebihkan salah satu istri di atas istri-istri yang lain, atau salah satu anak atas anak-anak yang lain.

4. Adil dalam perkataan dengan tidak bersaksi dengan kesaksian palsu dan tidak dikatakan sebagai pembohong.

5. Adil dalam keyakinan dengan tidak meyakini kebenaran, kejujuran, dan dirinya tidak dipuji dengan sesuatu yang tidak ada pada dirinya.

Contoh Adil dalam Keputusan Hukum

Ketika Umar bin Khotob ? sedang duduk, tiba-tiba orang dari Mesir menemuinya, dan berkata,

“Wahai Amirul Mukminin, inilah posisi orang yang meminta perlindungan kepadamu.”

Umar bin Al Khotob berkata, “Engkau telah meminta perlindungan kepada orang yang bisa memberi perlindungan. Apa yang terjadi padamu?”,Orang Mesir tersebut berkata, “Aku lomba pacuan kuda dengan anak Amr bin Al Ash, dan aku berhasil mengalahkannya, namun ia memukul kepalaku dengan cemetinya sambil berkata, ‘Aku anak dua orang yang mulia’.”

Kemudian Umar bin Khotob menulis surat kepada Amr bin Al Ash, gubernur Mesir ketika itu, “Jika musim haji tiba, hendaklah engkau, dan anakmu si Fulan berangkat haji.”

Kepada orang Mesir itu tersebut Umar biun Khotob berkata,” Engkau tetap berada di sini, hingga Amr bin Al Ash dan anaknya datang.”

Pada musim haji, Amr bin Al Ash ikut menunaikan haji. Ketika Umar bin Khotob telah selesai merampungkan aktivitas haji, ia duduk bersama para jamaah haji, sedang Amr bin Al Ash dan anaknya duduk di sebelah Umar bin Khatab. Kemudian orang dari Mesir tersebut berdiri, dan Umar bin Khatab melemparkan tongkatnya kepadanya dan berkata, “Pukullah anak dua orang yang mulia.”

Orang Mesir itu berkata, “Sudah cukup, dan aku sudah puas, wahai Amiirul Mukminin.”

Umar bin Al Khotob berkata, “Pukulah Amr bin Al Ash.”

Orang Mesir tersebut, “Aku sudah memukul orang yang pernah memukulku.”

Umar bin Khotob berkata, “Demi Allah, jika engkau mau memukul Amr bin Al Ash,maka tidak ada seorangpun yang bisa mencegahmu hingga engkau sendiri yang menghentikan pukulanmu terhadapnya.”

Kepada Amr bin Al Ash, Umar bin Khotob berkata, “Hai Amr, sejak kapan engkau memperbudak manusia, padahal mereka dilahirkan ibu mereka dalam keadaan merdeka?”

Buah Adil

Di antara buah adil dalam keputusan hukum ialah tersebarnya ketentraman di dalam hati. Dikisahkan bahwa kaisar Romawi mengirim utusan pada Umar bin Khotob ? untuk melihat dari dekat kondisinya, dan aktivitas-aktivitasnya. Ketika utusan Romawi tersebut telah tiba di Madinah ia bertanya tentang Umar bin Khotob kepada penduduk Madinah, “Mana Raja Kalian?” Penduduk Madinah menjawab, “Kami tidak mempunyai raja. Kami hanya mempunyai pemimpin yang telah pergi keluar Madinah.” Utusan kaisar

Romawi tersebut segera keluar dari kota Madinah untukmencari Umar bin Khotob dan menemukannya tidur di atas tanah dengan berbantalkan tongkat kecilnya yang biasa ia bawa untuk merubah kemungkaran. Ketika utusan kaisar Romawi melihat Umar bin Khotob dalam keadaan seperti itu, ia merasakan ketenangan di hatinya, dan berkata, “Orang yang ditakuti semua raja karena kewibawaannya kok keadaanya seperti ini? Namun hai Umar, engkau berbuat adil, dan engkau pun bisa tidur sedangkan raja kami dzolim, maka tidak heran jika ia tidak bisa tidur, dan selalu diliputi ketakutan.”

Adapun pertengahan, maka lebih umum dari pada adil dan pertengahan inilah yang mengelola seluruh persoalan orang muslim dalam hidupnya. Pertengahan ialah jalan tengah di antara berlebih-lebihan dan sembrono yang keduanya merupakan sifat tercela.

Pertengahan dalam ibadah ialah bersih dari sikap berlebih-lebihan dan sembrono. Pertengahan dalam infaq ialah tidak berlebih-lebihan dan tidak pula pelit, namunpertengahan di antara keduanya. Allah Ta’ala berfirman,

“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.” Qs. Al Furqon: 67

Pertengahan ialah saudara kembar sifat istiqomah dan akhlaq yang paling mulia, karena akhlak itulah yang membuat orang muslim tidak melanggar batasan batasan Allah SWT, membangkitkan untuk melaksanakan ibadah-ibadah fardhu, dan mengajarkan kesucian kepadanya hingga ia merasa cukup dengan apa yang dihalalkan Allah SWT baginya.

Cukuplah kemuliaan bagi orang-orang yang istiqomah bahwa Allah ta’al a berfirman,

“Dan bahwasanya: jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezki yang banyak)”. Qs. Al Jin: 16

Dan Allah berfirman,

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah”, kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita. Mereka itulah penghuni-penghuni syurga, mereka kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.” Al Ahqoof: 13-14

Akhlaq Penyayang

Orang muslim itu penyayang, dan ksih sayang adalah salah satu akhlaknya, sebab sumber kasih sayang adalah jiwa yang bening dan hati yang bersih. Dalam mengerjkaan kebaikan, mengerjkana amal sholih, menjauhi keburukan dan menghindari kerusakan, orang muslim selalu berada dalam hati yang bersih dan jiwa yang baik. Barang siapa keadaanya seperti itu, maka sifat kasih sayang tidak terpisah dengan hatinya.

Oleh karena itu, orang muslim menyukai sifat kasih sayang, memberikannya, menasihati orang dengannya, dan mengajak orang kepadanya, karena dalil-dalil berikut: Firman Allah ta’ala,

?

“Dan dia termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang.” Qs. Al Balad: 17

Ingin mengamalkan sabda Rosul SAW, “Sesungguhnya Allah hanya menyayangi hamba-hambanya yang penyayang.” HR Al Bukhary

Sabda Rosul SAW, “Sayangilah oleh kalian siapa saja yang ada di bumi, niscaya kalian disayangi siapa saja yang ada dilangit.” HR Ath Thabroniy dan Al Hakim dengan sanad shahih.

Sabda Rosul SAW, “Kasih sayang tidak dicabut kecuali dari orang yang celaka”

Ingin mewujudkan sabda Rosul SAW, “Perumpamaan kaum mukminin dan cinta mereka, kasih sayang mereka, dan kedekatan mereka, seperti satu badan. Jika salah satu dari anggota badan sakit, maka seluruh anggota badan tidak bisa tidur dan sakit demam.” HR Muslim

Kendati asal-muasal kasih sayang ialah hati yang tipis (sensitif) dan kelembutan jiwa yang membuat orang yang bersangkutan memaafkan orang lain dan berbuiat baik kepadanya, hanya saja kasih sayang itu tidak selamanya sekedar kelembutan jiwa yang tidak mempunyai bukti di luar, namun kelembutan jiwa tersebut mempunyai bukti eksternal, dan fenomena-fenomena yang terlihat di dunia nyata. Di antara bukti sifat kasih sayang ialah memaafkan kesalahan orang lain, menolong orang yang mendapatkan musibah, membantu orang yang lemah, membri makan kepada orang yang lapar, memberi pakaian kepada orang yang telanjang, mengobati orang yang sakit, dan menghibur orang yang sedih. Semua ini dan contoh –contoh lainnya adalah bukti dan pengaruh sifat kasihg sayang.

Di antara fenomena-fenomena kasih sayang yang bisa diraba, dan dilihat adalah sebagai berikut:

  1. Al Bukhary meriwyatkan dari anas bin malik RA yang berkata, “kami bersama Rosul SAW pergi kepada abu yusuf al Qoin, suami wanita yang menyusui ibrohim. Beliau mengambil ibrohim, dan menciumnya. Setelah itu kami masuk menemuinya lagi, ternyata ibrohim telah menghembuskan nafsa terakhirnya, dan mata Rosul SAW berlinang air mata. Abdurrohman bin auf berkata kepada Rosul SAW, “Engkau menangis, wahai rasullulloh? Rosul SAW bersabda, ‘Haoi anak ‘Auf, ini adalah kasih sayang.’ Setelah itu belioau bersabda, ‘sesungguh mata mengucurkan airmata, hati sedih, kita tidak berkata kecuali apa yang diridhoi tuhan kita, dan kita amat sedih dengan kepergianmu, hai ibrohim’. Kunjungan Rosul SAW kepada anak kandungnya di rumah wanita yang menyusuinya, dan ciuman beliau terhadapnya, dan air mata kesedihan yang keluar dari mata beliau itu adalah fenomena-fenomena kasih sayang hati.
  2. Imam Al Bukhary meriwayatkan dari abu hurairoh RA bahwa Rosul SAW bersabda, “Seseorang berjalanj dalam keadaan sangat kehausan, kemudian ia turun ke salah satu sumur, dan meminum airnya. Ketika ia keluar dari padanya, ternyata seekor anjing nafasnya kembang kempis memakan tanah basah karena kehausan. Ia berkata, “Sungguh anjing in itelah sampai pada kondisi yang aku sampai padanya.’ Ia pun memenuhi sepatunya dengan air, menahan dengan mulutnya, naik, dan memberikan airnya kepada anjing tersebut. Ia bersyukur kepada Allah, dan Allah pun mengampuni dosa-dosanya.Turunnya orang tersebut ke sumur, kesabarannya menanggung kesulitan mengambil air dari padanya, dan pemberian air olehnya kepada anjing, itu semua adalah fenomena-fenomena kasih sayang di dalam hatinya, karena tanpa kasih sayang tersebutm ia tidakmungkin bisa berbuat seperti itu terhadap anjing tersebut.Kebalikan dari kejadian di atas ialah kasus yang diriwayatkan Al Bukhary dari Abu Hurairah ? dari Rosul SAW yang bersabda, “Seorang wanita disiksa karena kucing yang ia tahan hingga mati, dankarenanya ia masuk neraka. Dikatakan kepada wanita tersebut, “Engkau tidak memberi makan dan minum kepda kuing tersebut, ketika engkau menahannya. Engkau juga tidak melepaskannya supaya ia bisa memakan hewan-hewan di tanah’.” HR Al Bukhary.Tindakan wanita tersebut menahan kucing tanpa memberinya makan minum ialah salah satu fenomena kekerasan hati, dan tercabutnya kasih sayang dari hatinya. Kasih sayang tidak dicabut kecuali dari hati orang celaka.
  3. Imam Al Bukhary meriwayatkan dari Abu Qotadah RA bahwa Rosul SAW bersabda, “Sesungguhnya aku mengejakan sholat, dan ingin memanjangkannya, tiba-tiba aku mendengar suara tangis anak kecil, kemudian aku meringankan terhadap apa yang aku ketahui (bacaan Al Qur’an), karena begitu besar kesedihan ibunya karena tangisnya.” (HR Bukhary) Pembatalan Rosul SAW dari memanjangkan sholat, dan kesedihan ibu karena tangis anaknya adalah salah satu fenomena kasihsayang yang dimasukan Allah ta’ala ke hati hamba-hambaNya yang penyayang.
  4. Dikisahkan bahwa Zainal Abidin Ali bin Al Husain dihina orang dalam perjalannya ke masjid, kemudian beberapa orangdari pembantunya ingin memukul orang tersebut, dan menyakitinya, namun Zainal Abidin melarang mereka bertindak seperti itu karena kasih sayangnya terhadap orang tersebut. Ia berkata, “Pak, aku lebih banyak dari apa yang engkau katakan, dan apa yang tidak engkau ketahui tentang diriku itu lebih banyak dari pada apa yang engaku katakan. Jika engkau meminta kebutuhan kepadaku, bilang saja dengan terus terang.” Orang itu tersipu malu, kemudian Zainal Abidin membuka gamisnya, danmenyuruhpembantunya memberikan uang sebanyak seribu dirham kepada orang tersebut. Pemberian maaf, dan pemberian di atas tidak lain adalah salah satu bentuk kasih sayang di hati cucu Rosul SAW.

III. BAB METODE DAKWAH ROSUL DALAM PEMBENTUKAN AKHLAQUL KARIMAH

a. Kondisi Umat pada Zaman Rosul SAW

i. Gambaran kondisi sosial masyarakat jahiliyah

Berikut adalah gambaran mengenai kondisi moral dan kehidupan akhlaq masyarakat pada jaman jahiliyah. Dinukil dari sieroh nabawiyah, Ar Rohiiqul Makhtum, syaikh Abdurrohman Al Mubarrokfurriy, terj. Alsofwah, www.alsofwah.or.id

Perlu diketahui bahwa penulis hanya menukil gambaran tentang kebobrokan kehidupan moral masyarakat jahiliyah, kita tidakdapat memungkiri bahwa masyarakat Jahiliyah identik dengan kehidupan nista, pelacuran dan hal-hal lain yang tidak dapat diterima oleh akal sehat dan ditolak oleh perasaan. Namun begitu, mereka juga mempunyai akhlaq mulia dan terpuji yang amatmenawan siapa saja dan membuatnya terkesima dan takjub. Di antara akhlaq tersebut adalah: Kemurahan hati, Menepati Janji,Kebanggaan pada diri sendiri dan sifat pantang menerima pelecehan dan kezhaliman, Tekad yang pantang surut, Lemah lembut, &tenang dan waspada.

Terdapat beragam klasifikasi dalam tatanan masyarakat ‘Arab di mana antar satu dengan lainnya, kondisinya berbeda-beda.

Hubungan seorang laki-laki dengan keluarganya di lapisan kaum bangsawan mendapatkan kedudukan yang amat terpandang dan tinggi, kemerdekaan berkehendak dan pendapat yang mesti didengar mendapatkan porsi terbesar. Hubungan ini selalu dihormatidan dijaga sekalipun dengan pedang yang terhunus dan darah yang tertumpah. Seorang laki-laki yang ingin dipuji karena kemurahan hati dan keberaniannya di mata orang Arab, maka hendaklah waktunya yang banyak hanya dipergunakan untuk berbicara dengan wanita. Jika seorang wanita menghendaki, dia dapat mengumpulkan suku-suku untuk kepentingan perdamaian, namun juga dapat menyulut api peperangan diantara mereka. Meskipun demikian, tak dapat disangkal lagi bahwa seorang laki-laki adalah kepala keluarga dan yang menentukan sikap didalamnya. Hubungan antara laki-laki dan wanita yang berlangsung melalui akad nikah dan diawasi oleh para walinya (wanita). Seorang wanita tidak memiliki hak untuk menggurui mereka.

Sementara kondisi kaum bangsawan demikian, kondisi yang dialami oleh lapisan masyarakat lainnya amat berbeda. Terdapat beragam gaya hidup yang bercampur baur antara kaum laki-laki dan wanita. Kami hanya bisa mengatakan bahwa semuanya adalahberupa pelacuran, gila-gilaan, pertumpahan darah dan perbuatan keji. Imam Bukhari dan lainnya meriwayatkan dari ‘Aisyah radhiallâhu ‘anha bahwa pernikahan pada masa Jahiliyah terdiri dari empat macam:

Pertama, pernikahan seperti pernikahan orang sekarang; yaitu seorang laki-laki mendatangi laki-laki yang lain dan melamar wanita yang dibawah perwaliannya atau anak perempuannya, kemudian dia menentukan maharnya dan menikahkannya.

Kedua, seorang laki-laki berkata kepada isterinya manakala ia sudah suci dari haidnya, “Pergilah kepada si fulan dan bersenggamalah dengannya”, kemudian setelah itu, isterinya ini ia tinggalkan dan tidak ia sentuh selamanya hingga tampak tanda kehamilannya dari laki-laki tersebut. Dan bila tampak tanda kehamilannya, bila si suaminya masih berselera kepadanya maka dia akan menggaulinya. Hal tersebut dilakukan hanyalah lantaran ingin mendapatkan anak yang pintar. Pernikahan semacam ini dinamakan dengan nikah al-Istibdha’.

Ketiga, sekelompok orang dalam jumlah yang kurang dari sepuluh berkumpul, kemudian mendatangi seorang wanita dan masing-masing menggaulinya. Jika wanita ini hamil dan melahirkan, kemudian setelah berlalu beberapa malam dari melahirkan, dia mengutus kepada mereka (sekelompok orang tadi), maka ketika itu tak seorang pun dari mereka yang dapat mengelak hingga semuanya berkumpul kembali dengannya, lalu si wanita ini berkata kepada mereka: “kalian telah mengetahui apa yang telah kalian lakukan dan aku sekarang telah melahirkan, dan dia ini adalah anakmu wahai si fulan!”. Dia menyebutkan nama laki-laki yang dia senangi dari mereka, maka anaknya dinasabkan kepadanya.

Keempat, Banyak laki-laki mendatangi seorang wanita sedangkan si wanita ini tidak menolak sedikitpun siapa pun yang mendatanginya. Mereka ini adalah para pelacur; di pintu-pintu rumah mereka ditancapkan bendera yang menjadi simbol mereka dansiapa pun yang menghendaki mereka maka dia bisa masuk. Jika dia hamil dan melahirkan, laki-laki yang pernah mendatanginya tersebut berkumpul lalu mengundang ahli pelacak (al-Qaafah) kemudian si ahli ini menentukan nasab si anak tersebut kepada siapa yang mereka cocokkan ada kemiripannya dengan si anak lantas dipanggillah si anak tersebut sebagai anaknya. Dalam hal ini, si laki-laki yang ditunjuk ini tidak boleh menyangkal. Maka ketika Allah mengutus Nabi Muhammad SAW, beliau hapuskan semua pernikahan kaum Jahiliyah tersebut kecuali pernikahan yang ada saat ini.

Dalam tradisi mereka, antara laki-laki dan wanita harus selalu berkumpul bersama dan diadakan dibawah kilauan ketajaman mata pedang dan hulu-hulu tombak. Pemenang dalam perang antar suku berhak menyandera wanita-wanita suku yang kalah dan menghalalkannya. Anak-anak yang ibunya mendapatkan perlakuan semacam ini akan mendapatkan kehinaan semasa hidupnya.

Kaum Jahiliyah terkenal dengan kehidupan dengan banyak isteri (poligami) tanpa batasan tertentu. Mereka mengawini dua bersaudara, mereka juga mengawini isteri bapak-bapak mereka bila telah ditalak atau karena ditinggal mati oleh bapak mereka.

Allah berfirman: “Dan janganlah kamu kawini wanita-wanita yang telah dikawini oleh ayahmu, terkecuali pada masa yang telah lampau. Sesungguhnya perbuatan itu amat keji dan dibenci Allah dan seburuk-buruk jalan (yang ditempuh).(22) Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibu isterimu (mertua); anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya; (Dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(23)”. [Q.,s. 4/an-Nisa': 22-23]. Hak mentalak ada pada kaum laki-laki tetapi tidak memiliki batasan tertentu.

Perbuatan zina merata pada setiap lapisan masyarakat. Tidak dapat kita mengkhususkan hal itu kepada satu lapisan tanpamenyentuh lapisan yang lainnya. Ada sekelompok laki-laki dan wanita yang terkecuali dari hal tersebut. Mereka adalah orang-orang yang memiliki jiwa besar dan menolak keterjerumusan dalam lumpur kehinaan. Wanita-wanita merdeka kondisinya lebih bagus dari kondisi para budak wanita. Kondisi mereka (budah wanita) amat parah sekali. Nampaknya, mayoritas kaum Jahiliyah tidak merasakan keterjerumusan dalam perbuatan keji semacam itu menjadi suatu aib bagi mereka. Imam Abu Daud meriwayatkan dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, dia berkata: seorang laki-laki berdiri sembari berkata: wahai Rosulullah!

Sesungguhnya si fulan adalah anakku dari hasil perzinaanku dengan seorang budak wanita pada masa Jahiliyah. Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian bersabda: “tidak ada dakwaan dalam Islam (yang berkaitan dengan masa Jahiliyah). Urusan yang terkait dengan masa Jahiliyah telah lenyap. Seorang anak adalah dari hasil ranjang (dinasabkan kepada yang empunya ranjang,yaitu suami yang dengan nikah yang shah-penj), sedangkan kehinaan adalah hanya bagi wanita pezina”. Begitu juga dalam hal ini, terdapat kisah yang amat terkenal yang terjadi antara Sa’ad bin Abi Waqqash dan ‘Abd bin Zam’ah dalam mempersoalkan nasab anak dari budak wanita Zam’ah, yaitu ‘Abdur Rahman bin Zam’ah.

Sedangkan hubungan antara seorang bapak dengan anak-anaknya, amat berbeda-beda; diantara mereka ada yang menguraikan rangkaian bait:

“Sungguh kehadiran anak-anak di tengah kami

Bagai buah hati, berjalan melenggang di atas bumi…”

Di antara mereka, ada yang mengubur hidup-hidup anak- anak wanita mereka karena takut malu dan enggan menafkahinya. Anak laki-laki dibunuh lantaran takut menjadi fakir dan melarat. Allah berfirman: “…dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan. Kami akan memberi rizki kepadamu dan kepada mereka..”. (Q.,s.6/al-An’am:151). Allah juga berfirman:

“Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah.(58) Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)? Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu. (59)”. (Q.,s. 16/an-Nahl: 58-59). Allah berfirman lagi: “Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kami lah Yang akan memberi rizki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar”.(Q.,s. 17/al-Isra’: 31). Allah berfirman dalam ayat yang lain: “dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya”. (Q.,s. 81/at-Takwir: 8). Akan tetapi kita tidak bisa menganggap bahwa apa yang termaktub dalam ayat-ayat diatas telah mencerminkan moral yang berlaku umum di masyarakat. Di sisi lain, mereka justru sangat mengharapkan anak laki-laki untuk dapat membentengi diri mereka dari serangan musuh.

Sedangkan pergaulan antar seorang laki-laki dengan saudaranya, anak-anak paman dan kerabatnya sangat kental dan kuat. Mereka hidup dan mati demi fanatisme kesukuan. Semangat untuk bersatu begitu membudaya antar sesama suku yang menambah rasa fanatisme tersebut. Bahkan prinsip yang dipakai dalam sistem sosial adalah fanatisme rasial dan hubungan tali rahim. Mereka hidup dibawah semboyan yang bertutur: “Tolonglah saudaramu baik dia berbuat zhalim ataupun dizhalimi”. Mereka menerapkan semboyan ini sebagaimana adanya, tidak seperti arti yang telah diralat oleh Islam yaitu menolong orang yang berbuat zhalim maksudnya mencegahnya melakukan perbuatan itu. Meskipun begitu, perseteruan dan persaingan dalam memperebutkan martabat dan kepemimpinan seringkali mengakibatkan terjadinya perang antar suku yang masih memiliki hubungan se-bapak. Kita dapat melihat fenomena tersebut pada apa yang terjadi antara suku Aus dan Khazraj, ‘Abs dan Dzubyan, Bakr dan Taghlib, dan lain-lain.

Di lain pihak, hubungan yang terjadi antar suku yang berbeda-beda benar-benar berantakan. Kekuatan yang ada mereka gunakan untuk berjibaku dalam peperangan. Hanya saja terkadang, rasa sungkan serta rasa takut mereka terhadap sebagian tradisi dan kebiasan bersama yang sudah ada dan berlaku antara ajaran agama dan khurafat sedikit mengurangi deras dan kerasnya genderang perseteruan tersebut. Dan dalam kondisi tertentu, loyalitas, persekutuan dan subordinasi yang terjalin menyebabkan antar suku yang berbeda berangkul dan bersatu. Dan satu-satunya yang merupakan rahmat dan penolong bagi mereka adalah adanya bulan-bulan yang diharamkan berperang (al-Asyhurul Hurum) sehingga mereka dapat menghirup kehidupan dan mencari rizki guna kebutuhan sehari-hari.

Singkat kata, bahwa kondisi sosial yang berlaku di masyarakat Jahiliyah benar-benar rapuh dan dalam kebutaan. Kebodohan mencapai puncaknya dan khurafat merajalela dimana-mana. Orang-Orang hidup layaknya binatang ternak. Wanita diperjual belikan bahkan terkadang diperlakukan bak benda mati. Hubungan antar umat sangat lemah, sementara setiap ada pemerintahan maka ujung -ujungnya hanyalah untuk mengisi gudang kekayaan mereka yang diambil dari rakyat atau menggiring mereka untuk berperang melawan musuh-musuh yang mengancam kekuasaan mereka.

b. Tugas-Tugas Rosul SAW sebagai Suri Tauladan Akhlaqul Karimah

Tugas para nabi dan rosul secara umum adalah menyampaikan risalah kepada manusia. Di antara manusia ada yang menerima dan beriman Allah, namun banyak di antara manusia yang mengingkarinya. Mereka yang menerima risalah dan beriman maka ia menjadi seorang muslim dan mu’min. Iman dan Islam mereka terlihat dari pancaran wajah dan perilaku kehidupan mereka. Itulah kesempurnaan akhlaq. Sebagaimana sabda rosul yang telah berulang kali penulis kemukakan.

(( ?))

“Sesungguhya aku telah diutus untuk menyempurnakan budi pekerti yang luhur”

c. Metode Dakwah Rosul SAW

Pengertian metode dakwah

Dalam buku Strategi Dakwah Islam dalam Membentuk Da’i dan Khotib Profesional oleh Drs. Alwisral Imam Zaidallah, beliau menulis pengertianmetode dakwah sebagai berikut:

“Dalam membahas pengertian metode dakwah ini marilah kita cermati beebrapa pendapat para ahli yaitu:

1. Dr. Abdul Karim Zaidan

Metode dakwah adalah suatu ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan cara penyampaian (tabligh) dan berusaha melenyapkan gangguan-gangguan yang merintangi.

2. Drs. Kha. Syamsuri Siddiq

Metode berasal dari bahasa latin: methodos artinya “cara” atau cara bekerja, di Indonesia sering dibaca metode. Logis juga berasal dari bahasa Latin artinya “ilmu”, lalu menjadi kata majemuk “Methodologi” artinya ilmu cara bekerja. Jadi methologi dakwah dapat diartikan ilmu cara berdakwah.

3. Drs. Salahuddin Sanusi

Metode berasal dari methodus yang artinya “jalan ke methode yang telah mendapat pengertian yang diteriam oleh umum yaitu cara-cara, prosedur atau rentetan gerak usaha tertentu untuk mencapai suatu tujuan. Metode Dakwah ialah cara-cara penyampaian ajaran Islam kepada individu, kelompok ataupun masyarakat supaya ajaran itu cepat dimiliki, diyakini serta dijalankan.

4. Drs. Abdul Kadir Munsyi

Metode artinya cara untuk menyampaikan sesuatu. Yang dinamakan metode dakwah ialah cara yang dipakai atauyang digunakan untuk memberikan dakwah. Metode ini penting untuk mengantar kepada tujuan yang akan dicapai.

Dari beberapa definisi metode dakwah di atas daptlah dicermati bahwa pendapat para ahli tersebut mempunyai kesamaan yaitu metode dakwah merupakan cara yang dipakai dalam menyampaikan dakwah.

Jadi kesimpulannya metode dakwah adalah cara bagaimana menyampaikan dakwah sehingga sasaran dakwah atau al mad’u mudah dicerna, dipahami, diyakini terhadap materi yang disampaikan.”

Adapun metode yang ditempuh Rosul SAW di dalam berdakwah menyampaikan risalahnya secara global ialah:

1. memberi peringatan

2. menmgagungkan robb

3. memberihkan diri dari dosa/ taubat

4. iklhas

5. bersabar

Sebagaimana tertulis dalam bab “Perintah melaksanakan dakwah kepada Allah dan materi dakwah” Siroh Nabawiyah oleh Syaikh Shofiyyurohman Al Mubarokfury.

“Nabi SAW mendapat berbagi macam perintah dalam firman Allah SWT:

?(1) ?(2)?(3) ?(4)

?(5) ?(6) ?

Artinya: Hai orang yang berkemul (berselimut), bangunlah, lalu berilah peringatan! dan Tuhanmu agungkanlah! dan pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan dosa tinggalkanlah, dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak. Dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah. (Al Mudatsir: 1-7)

Sepintas lalu ini merupakan perintah-perintah sederhana dan remeh. Namun pada hakikatnya mempunyai tujuan yang jauh, berpengaruh sangat kuat dan nyata, yang dapat dirinci sbb:

1. Tujuan pemberian peringatan agar siapapun yang menyalahi keridhoan Allah di dunia ini diberi perngiatan tentang akibatnya yang pedih di kemudian hari, dan yang pasti akan mendatangkan kegelisahan dan ketakutan di dalam hatinya.

2. Tujuan mengagungkan rob, agar siapapun yang menyombongkan diri di dunia tidak dibiarkan begitu saja melainkan kekuatannya akan dipunahkan dan keadaannya akan dibalik total, sehingga tidak ada kebesaran yang menyisa di dunia selain kebesaran Allah.

3. Tujuan membersihkan pakaian dan meninggalkan perbuatan dosa, agar perbuatan lahir dan batin benar-benar tercapai, begitu pula dalam membersihkan jiwa dari segala noda dan kotoran bisa mencapai titik kesempurnaan agar jiwa manusia berada di bawah lindungan rahmat Allah, penjagaan, pemeliharaan, hidayah dan cahaya Nya, sehingga ia menjadi sosok ideal di tengah masyarakat manusia, mengundang pesona semua hati dan decak kekaguman.

4. Tujuan larangan mengharap yang lebih banyak dari apa yang diberikan, agar seseorang tidak mengangap perbuatan dan usahanya sesuatu yang besar lagi hebat, agar dioa senantiasa berbuat dan berbuat, lebih banyak berusaha dan berkorban, lalu melupakannya. Bahkan dengan perasaannya di hadapan Allah, dia tidak merasa telah berbuat dan berkorban.

5. dalam ayat yang terakhir terdapat isyarat tentang gangguan, siksaan, ejekan dan olok-olok yng bakal dilancarkan orang-orang orang yang menentang, dan bahkan mereka akan berusaha membunuh beliau dan membunuh para sahabat serta menekan setiap orang yang beriman di sekitar beliau. Allah memerintahkan agar beliau bersabar dalam menghadapi semua itu, dengan modal kekuatan dan ketabahan hati, bukan dengan tujuan untuk kepentingan pribadi, tapi karena keridhoan Allah semata.”

d. Hubungan dakwah Rosul SAW dalam pembentukan akhlaqul karimah

Setelah membaca dari awal tulisan ini, kita bisa menyimpulkan bahwa tujuan diutusnya Rosul SAW adalah menjadikan manusia bertauhid. Bertauhid artinya ia mengesakan Allah dalam segala bentuk ibadah.

Allah Ta’ala berfirman:

“Artinya: Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan sesuatu apapun dengan-Nya”. (An-Nisaa: 36)

Sementara ibadah adalah segala macam perbuatan yang dicintai Allah SWT meliputi Islam (Syahadat, Shalat, Puasa, Zakat dan Haji), Iman, Ihsan, Do’a, Khauf (takut), Raja’ (pengharapan), Tawakkal, Raghbah (penuh minat), Rahbah (cemas), Khusyu’ (tunduk), Khasyyah (takut), Inabah (kembali kepada Allah), Isti’anah (memohon pertolongan), Isti’adzah (meminta perlindungan), Istighatsah (meminta pertolongan untuk dimenangkan atau diselamatkan), Dzabh (penyembelihan), Nadzar dan macam-macam ibadah lainnya yang diperintahkan.

Seluruh bentuk ibadah itu kaitannya adalah dengan Allah SWT dan manusia seluruhnya. Maka barang siapa memiliki tauhid yang paling lurus maka dialah yang paling bertaqwa. Barangsiapa yang paling bertaqwa maka dialah yang paling baik akhlaqnya. Insan yang berakhlaq mulia (Akhlaqul Karimah) adalah ia yang memiliki pakaian taqwa. Jika taqwa itu adalah mematuhi perintah Allah SWT dan menjauhi larangannya, maka manusia yang paling bertaqwa adalah ia yang paling memiliki kemuliaan akhlaq. Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu” (Qs. Al Hujuroot: 13)

Rasululloh SAW ditanya tentang sesuatu yang paling banyak memasukan orang ke syurga, maka beliau SAW bersabda, (()) “Bertakwa kepada Allah dan Akhlak yang baik” (Diriwayatkan At Tirmidzi yang menshahihkannya).

Islam yang dibawa oleh Rosul SAW adalah peraturan yang membina akhlaq. Atau dengan kata lain pembinaan akhlaqul karimah adalah tujuan diutusnya Rosul SAW di atas muka ini. Ini adalah inti dari pada seruan dakwah Rosul SAW.

Karena hanya Islamlah yang akan menuntun manusia dan jin sehingga menjadi makhluk yang mulia dan pantas ditinggikan derajatnya. Dia, manusia itu, akan menjadi sesosok figur yang mampu mempertanggung-jawabkan hak dan kewajiban dirinya sendiri kepada Allah, dalam keluarga dan bahkan dalam tatanan masyarakat yang lebih luas. Sebab figur akhlaq tertinggi adalah dia, manusia mulia, pilihan sang Rabb pemilik langit dan bumi beserta segala yang ada di antara keduaannya, sebagai mana firman Allah yang ditujukan kepada nabi Muhammad SAW: ?“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” Qs. Al Qolam: 04

Realisasi dari semua ini adalah ittiba’ur Rosul SAW, sebaik baik suri tauladan bagi umatnya, figur akhlaq paling ideal, dan idola paling mulia di kolong langit ini.

Mengikuti Rosul SAW berarti mengikuti pula seluruh jalan para shahabatnya, para manusia yang berakhlaq mulia dan generasi terbaik yang kemudian diikuti oleh para tabiiinya. Mereka adalah generasi-generasi awal Islam yang berhasil merubah kebrobrokan aqidah, kebejadan akhlaq, kekotoran muammalah dan hinanya masa manusia jahiliyah menjadi masyarakat muslim yang berkibar peradabannya denagn aqidah lurus dan akhlaq yang luhur.

Walhasil, akhlaq bangsa ini bisa diselamatkan hanya jika kita mengikuti pola dakwah generasi generasi awal terdahulu, generasi-generasi yang shalih, yang sulit dicari tandingannya.

Maka satu-satunya jalan untuk mengembalikan kemuliaan kaum muslimin adalah dengan meniti jalan yang telah di tempuh oleh para pendahulunya.

Berkata Imam Malik dalam kitabnya, Al Muwattho’: ? “Tidak akan menjadi baik urusan ummat ini kecuali dengan apa-apa yang telah membuat urusan ummat ini baik pada awal mulanya”

IV. BAB PENUTUP

a. Kesimpulan

Fenomena wahn, lemah dan kebobrokan akhlaq manusia terutama generasi muda di masyarakat kita pada saat ini, terutama realita kehidupan keseharian mereka, maka hal itu disebabkan karena jauhnya mereka dari cahaya Islam.

Melesatnya era globalisasi dan kemajuan tekhnologi telah membuat manusia tidak mengimbangi dengan percepatan tatanan moral yang semakin tinggi dan luhur. Namun akhlaq sebaliknya, semakin melesat mundur dengan cepatnya. Dan kaum muslimin sesungguhnya telah kalah dan akan hancur eksistensinya kecuali mereka kembali kepada ajaran Islam, kembali mengikuti fitroh mereka, kembali kepada ajaran tauhid yang bersih dari syirik.

Adapun metode dakwah yang tepat pada saat ini adalah pola dakwah yang mengikuti pola Rosul SAW. Dan jalan dakwah Rosul sesunguhnya berada di atas pola tasfiyah (pembersihan dan pemurnian) ummat dari akhlaq jahiliyah berupa kemusryikan, kebathilan dan kejahilan, kemudian di bina dan di tarbiyahnya ummat itu dengan ahkhlaq Islam berupa tauhid.

b. Saran-saran

Harapan penulis, semoga risalah kecil ini dapat bermanfaat bagi bagi kita semua, menjadi pelengkap perpustakaan Islam, dan menjadi amal sholih bagi penulis kelak.

Akhirnya, segala kesempurnaan hanyalah milik Allah SWT semata, segala cacat dan kekurangan itu hanyalah ada pada diri manusia, dan dikarenakan tiada gading yang retak, penulis sangat menyadari akan banyaknya kekurangan dalam penulisan dan pembuatan risalah ini, karenanya kami membuka pintu selebar-lebarnya bagi sidang pembaca untuk memberikan saran dan kritik yang membangun guna perbaikan dan muhasabah bagi penulis di masa yang akan datang.

Karawang, Awal Muharrom 1425 H

Daftar Pustaka

  1. Al Hilay, Abu Usamah Salim ‘Ied 2002 Mengapa Memilih Manhaj Salaf, Solo, Pustaka Imam Bukhary
  2. Al-Jazairi, Abu Bakar Jabir 2003 Ensiklopedi Muslim, Jakarta, Darul Falah
  3. Al Mubarrokfuri, Abdurrohman Tt Sieroh Nabawiyah, Jakarta, Download Al Sofwah
  4. Al Mubarrokfuri, Abdurrohman 1997 Sieroh Nabawiyah, Jakarta, Pustaka Al Kautsar
  5. Al Utsaimin, Muhammad 2002 Panduan Kebangkitan Islam, Jakarta, Darul Haq
  6. At Tamimy, Syaikh Muhammad 2002 Kitab Tauhid, Jakarta, Darul Haq
  7. At Tamimy, Syaikh Muhammad 2002 Tiga Landasan Utama, Solo, At Tibyan
  8. Ashr, Syaikh Ibrohim Isma’il 2003 Manhaj Ibnu Taimiyah Beramar Ma’ruf Nahi Munkar, Jakarta, Darul Haq
  9. Daeroby, Ahmad Drs, H., M. Ag 2001, Kesempurnaan Akhlaq, Majalah Risalah, Bandung
  10. Poerwadarminta, W.J.S 2002 Kamus Umum Bahasa Indonesia, Jakarta, Balai Pustaka
  11. Ya’qub, Hamzah, Dr. H. 2002 Etika Islam Bandung, cv. Diponegoro
  12. Zaidalah, Alwisral Imam, Drs 2002 Strategi Dakwah dalam membentuk da’i dan khotib professional, Jakarta, Kalam Mulia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>