Mengolah Sampah Mendulang Dollar, mereduksi emisi gas rumah kaca dan menukarkannya dengan sertifikat CER

Berkunjung ke tempat paling bau sedunia di TPST Sumur Batu Bekasi dalam rangka Anjangsana Amprokan Blogger 2010, saya terpana melihat landscape tempat sampah terbesar kedua di Bekasi setelah TPST Bantar Gebang itu. Sudah sedemikian maju pengolahan sampah di negeri ini.

Sampah-sampah dari warga kota Bekasi dan sekitarnya yang diangkut kemari diolah sedemikian rupa dengan teknologi oleh pemerintah kota bekasi bekerja sama dengan PT Gikoko Kogyo Indonesia, sebuah perusahaan engineering dan manufakturing yang berspesialisasi dalam tata pengelolaan udara dan kontruksi pengelolaan bio energi.

Ada berhektar-hektar sampah di TPST ini yang ditata dengan sistem dumping sehingga tumpukan-tumpukan sampah yang ada terlihat tak ubahnya seperti lembah dan perbukitan di daerah Bogor atau Bandung, hanya saja tidak berkontur hijau sebab bukit-bukit sampah ini di tutupi semacam kover / terpal berwarna gelap guna mencegah gas methana yang dihasilkan sampah-sampah ini menguap ke udara.

Mengolah Sampah Mendulang Dollar, mereduksi emisi gas rumah kaca dan menukarkannya dengan sertifikat CER

Dengan menggunakan pipa-pipa,  gas metana dari bukit sampah itu disalurkan ke sebuah seperangkat fasilitas mesin. Fasilitas pembakaran gas metana itu dibangun di atas lahan seluas 10 hektare di Sumur Batu. Teknik pembakaran gas metana dikenal sebagai sistem landfill gas flaring.

Indonesia memiliki potensi lebih dari 400 juta meter kubik gas metana dari hasil pembakaran sampah. Konon setara dengan Rp 118 milyar per tahun.

Di tempat ini juga tengah direncanakan pembangunan generator listrik bertenaga sampah sehingga kelak diharapkan sampah-sampah yang semula hanya ditumpuk dan dibakar saja bakal bisa memberi solusi terhadap krisis listrik di dalam negeri.

Jika masih lama kenyataan dari sebuah konversi sampah hingga menjadi energi listrik, untuk apa pemerintah kota Bekasi bersusah payah mengelola sekedar sampah dari masyarakat dengan mendatangkan teknologi yang tidak murah untuk pengelolaannya? Tentu tidak sekedar melaksanakan kewajiban sebagai pemerintah dalam mengelola tata kebersihan kota. Adalah sebuah protokol yang menguntungkan bagi pemerintah kota bekasi, apa itu?

Protokol itu adalah Protokol Kyoto, adalah sebuah amandemen terhadap Konvensi Rangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC), sebuah persetujuan internasional mengenai pemanasan global. Negara-negara yang meratifikasi protokol ini berkomitmen untuk mengurangi emisi/pengeluaran karbon dioksida dan lima gas rumah kaca lainnya, atau bekerja sama dalam perdagangan emisi jika mereka menjaga jumlah atau menambah emisi gas-gas tersebut, yang telah dikaitkan dengan pemanasan global. Adalah proyek clean development mechanism (CDM) atau mekanisme pembangunan bersih sebagai proyek pengurangan emisi yang dijalankan 49 negara termasuk Indonesia. Proyek CDM telah banyak dijalankan sesuai dengan amanat Protokol Kyoto untuk mengurangi pemanasan global. Hingga kini, menurut catatan Bank Dunia,  setidaknya ada 860 proyek CDM yang dijalankan.

Mereka yang menjalankan proyek CDM ini  memperoleh sertifikat reduksi emisi (certified emission reduction –CER), yang dapat diperjualbelikan. Satu unit reduksi emisi gas rumah kaca sebanding dengan 1 metrik ton CO2 menurut protokol Kyoto. Sertifikat itu kemudian dijual ke negara maju untuk membantu mengurangi target pengurangan emisi gas rumah kaca di negaranya.

CDM diharapkan menghasilkan 2,6 milyar CER hingga periode Protokol Kyoto berakhir pada 2012. Harga CER di pasar spot dunia kini 10 euro hingga 12 euro per ton CO2.

Gas-gas penghasil efek rumah kaca itu di antaranya adalah: karbon dioksida, metan, nitrous oxide, sulfur heksafluorida, HFC, dan PFC. Gas metana paling banyak dihasilkan dari sampah. Gas metana termasuk golongan gas rumah kaca yang memiliki nilai global warming potential lebih kuat sebesar 21 kali lipat dibanding karbondioksida (CO2). Karenanya Pemerintah kota Bekasi lebih memilih menjalankan proyek CDM dengan membakar gas metana (CH4) yang timbul dari bukit sampah tersebut.

Referensi:

  1. Brosur GIKOKO
  2. http://www.gikoko.co.id
  3. http://id.wikipedia.org
  4. http://en.wikipedia.org
  5. http://masbadar.wordpress.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>