Menulis dan mempublikasikan artikel yang mengandung dan berbau unsur SARA (suku, agama, ras, dan antar golongan)

Menulis dan mempublikasikan artikel yang mengandung dan berbau unsur SARA (suku, agama, ras, dan antar golongan)?, asalkan baunya sedap dan wangi, tentu ya gak masalah. Tema SARA, bagaimanapun akan selalu mewarnai dunia blogging terkini terutama di tanah air.

Membuat, mengolah, dan menulis posting bermuatan SARA seperti mengolah,meracik, dan memasak makanan, menurut saya. Jika seperti itu analoginya, ya maka tergantung yang memasak / mengolah postingan SARA-nya, jika kokinya professional dan cerdik tentu postingan SARA-nya bisa menjadi pencerahan.

Kalo juru masaknya palsu; misalkan montir yang merangkap jadi koki, bisa jadi masakannya bau oli semua, meski ia gak berniat untuk menaburkan oli di masakannya.

Menulis, bahkan berbicara jika bukan pada kapasitasnya tentu akan membuat keadaan menjadi kacau balau tidak karuan. Bukan pencerahan yang dihasilkan, melainkan pencemaran yang ditimbulkan, menjadikan remang-remang bahkan penggelapan (baca: penyesatan).

Indonesia adalah negara yang sarat dengan SARA, negara yang penuh dengan perbedaan, silahkan hitung sendiri perbedaan itu. Sungguh tidak bijak, sama sekali tidak bijak mereka yang memanfaatkan isu-isu SARA untuk keuntungan sendiri, pribadi, maupun golongannya.

Jadi, marilah berbicara SARA sesuai dengan kapasitas kita, toh berbicara SARA tidak dilarang, yang dilarang adalah mempertentangkannya.

Courtesy picture: http://www.sxc.hu/photo/1404809

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>