Yang Lebih Mematikan dari Gempa Sumatera
Baru saja 3 hari setelah gempa besar (12/9) itu terjadi, kawan saya di California (USA) mengirim email tentang kemungkinan datangnya gempa besar yang periodik di segmen Mentawai, dan akan melanda Sumbar dalam kurun waktu dekat. Ditilik secara semi ilmiah, mungkin cukup logis bilamana kita berpikir gempa besar periodik di Padang yang berakhir pada 1833 akan terjadi lebih cepat dari perkiraan periodik sendiri. Maklum, karena gempa tidak mengenal sistem statistik linear yang menurut perhitungan para ahli 200 tahun sekali. Gempa besar Aceh dan rentetan gempa-gempa berikutnya justru akan mempercepat siklus 200 tahun-an tersebut, ‘katanya’. Gempa tersebut diperkirakan akan lebih besar dari 8 SR dengan gelombang tsunami yang cukup tinggi, ‘katanya’. Namun, fakta ilmiah terbaru belum lagi ‘besabda’, apakah hal demikian benar, atau cuma omong kosong belaka. Jepang saja yang merupakan negara ‘high tech’ belum lagi sanggup memprediksi kapan gempa terjadi. Teknologi terbaru-nya adalah mengetahui 30 detik sebelum gempa terjadi, dengan memanfaatkan Geothermal, apalagi Indonesia ?
Indonesia, hanya memiliki teknologi ‘komoditi isu’. Isu, isu dan isu, seperti hal-nya mitigasi gempa, tapi isu lebih dekat pada kelakar. Oleh karena itu entertainment seperti Cek dan Ricek, Kiss, Silet dan lain-lain laris manis di pasaran Indonesia. Tak terkecuali gempa, yang hadir dalam diskusi ‘one-one’ dan ‘induak-induak’, diskusi ‘palanta’, sampai diskusi mata kuliah umum di berbagai kampus. Inti-nya cuma satu, yaitu membayangkan kapan terjadi gempa, apa-apa saja yang disiapkan, sampai impian heroik individu untuk menjadi pahlawan saat terjadi bencana.
Seperti hal-nya cerita diatas (dari teman saya), seakan-akan benar-benar bombastis dan nyaris dapat dipercaya. Maklum, bangsa kita adalah bangsa yang sangat hormat akan komentar dari peneliti-peneliti luar seperti Jepang, Amerika, Inggris dan Australia. Maka dari cerita itu pula-lah akhirnya bertebaran ‘gosip’ (digosok makin siip) yang aneh perihal gempa. Itu pun baru cerita dari email, belum ‘bumbu-bumbu’ tambahan lain dari ‘BMG Bayangan’ yang akhir-akhir ini semarak dimana-mana.
Jangan khawatir, toh gempa hanyalah salah satu dari berbagai faktor yang dapat menyebabkan kematian. Kalau boleh diteliti lebih jauh lagi, warga Sumbar banyak yang wafat gara-gara bukan karena gempa, tetapi hanya karena mendengar isu gempa. Lagipula, riset medis juga mendukung pernyataan tersebut, bahwa penyebab kematian nomor satu di Sumbar adalah penyakit Jantung, bukan gempa. Jadi, yang perlu ditakuti bukanlah ‘sang gempa’, tapi ‘Sang Pembuat Gempa’ yang mengatur hati dan batin kita.
——————————————-
Ditulis oleh seorang shahabat; Hendriansyah, S.Si,*
*Penulis adalah Staf PT. LG Innotek Indonesia , Pengajar Kimia Bimbel Primagama, Kandidat Magister Manajemen Institut Teknologi Bandung, alumni FMIPA Universitas Andalas-Padang
Category: Sains


























Comments (0)
Trackback URL | Comments RSS Feed
There are no comments yet. Why not be the first to speak your mind.