Ada Tanda Tha’un Pada Covid 19

Ada Tanda Tha’un Pada Covid 19

Apakah wabah bencana penyebaran corona virus covid-19 juga termasuk dari tha’un? Jawabannya adalah iya, Ada Tanda Tha’un Pada Covid 19. Makalah ini dibuat oleh Al Ustadz Tubangi Abu Uti, pengasuh Yayasan Pendidikan Islam Nashihah, di Cikarang Baru.

Tabel of Contents:

Definisi Tha’un

Menurut Atsar

وفي أثر عن عائشة رضي الله عنها أنها قالت للنبي صلى الله عليه وسلم: الطَّعْنُ قَدْ عَرَفْنَاهُ، فَمَا الطَّاعُوْنُ؟ قَالَ: (غُدَّةٌ كَغُدَّةِ الْبَعِيْرِ يَخْرُجُ فِي الْمَرَّاقِ وَالْإِبْطِ) زاد المعاد ص. 225 .

Ada atsar dari Aisyah radhiyaLlaahu ‘anha bahwasanya ia bertanya kepada Nabi sholaLlaahu ‘alaihi wa sallaam: At Tha’nu, (pes) kami mengenalnya, lalu apakah Tha’un itu? Beliau menjawab: Dia adalah kelenjar, seperti kelenjar onta, dia keluar di tempat darah mengalir dan ketiak.(Zadul Ma’ad halaman: 225).

Menurut Kamus Lisanul ‘Arab

وَبَاءٌ خَبِيْثٌ مُعْدٍ ذُو حُمًّى شَدِيْدَةِ االْحَرَارَةِ

Wabah / penyakit yang berbahaya, menular dengan cepat disertai demam dan panas yang sangat tinggi.

Menurut Kitab Zaadul Ma’ad

هُوَ كُلُّ مَرَضٍ يَعُمُّ، وَالتَّحْقِيْقُ أَنَّ بَيْنَ الْوَبَاءِ وَالطَّاعُوْنِ عُمُوْمًا وَخُصُوْصًا، فَكُلُّ طَاعُوْنٍ وَبَاءٌ، وَلَيْسَ كُلُّ وَبَاءٍ طَاعُوْنًا.( زاد االمعاد ص:666 ).

Dia adalah penyakit yang menyebar. Dan jika diteliti lagi bahwasanya ada perbedaan antara wabah dan Tha’un secara umum dan khusus. Maka setiap Tha’un adalah wabah, akan tetapi tidak setiap wabah, bisa disebut Tha’un.

Tha’un Menetap di Bumi, Terkadang Pergi dan Terkadang Datang Lagi

عَنْ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ عَنْ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم أَنَّهُ قَالَ: ((إِنَّ هَذَا الْوَجَعَ أَوِ السَّقَمَ رِجْزٌ عُذِّبَ بِهِ بَعْضُ الْأُمَمِ قَبْلَكُمْ ثُمَّ بَقِيَ بَعْدُ بِالْأَرْضِ فَيَذْهَبُ الْمَرَّةَ وَيَأْتِي الْأُخْرَى فَمَنْ سَمِعَ بِهِ بِأَرْضٍ فَلَا يَقْدَمَنَّ عَلَيْهِ وَمَنْ وَقَعَ بِأَرْضٍ وَهُوَ بِهَا فَلَا يُخْرِجَنَّهُ الفِرَارَ مِنْهُ. رواه مسلم.

“Dari Usamah bin Zaid radhiyaLlaahu ‘anhu, dari Rasulullah sholaLlaahu ‘alaihi wa sallaam bersabda: Sesungguhnya sakit/penyakit ini adalah siksaan. Yang mana sebagian umat sebelum kalian pernah disiksa dengannya. Kemudian setelah itu, ia tetap berada di bumi. Terkadang dia pergi dan terkadang dia datang kembali. Maka barang siapa yang mendengar terjadi wabah di suatu negeri, janganlah ia mendatanginya, dan jika terjadi wabah, sementara dia ada di negeri tersebut, maka janganlah dia keluar lari darinya.” HR Muslim.

Tha’un Menjadi Pahala Syahid bagi Orang Mukmin dan Siksaan bagi Orang Kafir

Anas bin Malik radhiyaLlaahu ‘anhu berkata:

قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلّم: الطَّاعُونُ شَهَادَةٌ لِّكُلِّ مُسْلِمٍ. رواه البخاري ومسلم.

“Rasulullah sholaLlaahu ‘alaihi wa sallaam bersabda: “Penyakit Tha’un adalah syahadah / pahala syahid bagi setiap muslim” HR Bukhari dan Muslim.

Abu Asib Maula Rasulillah berkata: Rasulullah sholaLlaahu ‘alaihi wa sallaam telah bersabda:

أَتَانِي جِبْرِيْلُ بِالْحُمَّى وَالطَّاعُوْنِ، فَأَمْسَكْتُ الْحُمَّى بِالْمَدِيْنَةِ وَأَرْسَلْتُ الطَّاعُوْنَ إِلَى الشَامِ، فَالطَّاعُوْنُ شَهَادَةٌ لِأُمَّتِي وَرَحْمَةٌ لَهُمْ وَرِجْزٌ عَلَى الْكَافِرِيْنَ. رواه أحمد وصححه الألباني في الصحيحة 761.

“Jibril datang kepadaku dengan membawa demam dan Tha’un. Aku menahan demam di Madinah dan kulepaskan Tha’un ke Syam. Maka Tha’un menjadi pahala syahid dan rahmat bagi umatku, dan siksaan bagi orang-orang kafir.” HR Ahmad.

Agar Menjadi Pahala, Hendaklah Disertai dengan Keimanan yang Lurus dan Tindakan yang Tepat/Sesuai Sunnah.

Dari Aisyah radhiyaLlaahu ‘anha berkata:

سَأَلْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم عَنِ الطَّاعُوْنِ ، فَأَخْبَرَنِي ((أَنَّهُ عَذَابٌ يَبْعَثُهُ اللهُ عَلَى مَنْ يَّشَاءُ، وَأَنَّ اللهَ جَعَلَهُ رَحْمَةً لِّلْمُؤْمِنِيْنَ، لَيْسَ مِنْ أَحَدٍ يَقَعُ الطَّاعُوْنُ فَيَمْكُثُ فِي بَلَدِهِ صَابِرًا مُحْتَسِبًا، يَعْلَمُ أَنَّهُ لَا يُصِيْبُهُ إِلَّا مَا كَتَبَ اللهَ لَهُ، إِلَّا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ شَهِيْدٍ)). رواه البخاري.

“Aku bertanya kepada Rasulullah sholaLlaahu ‘alaihi wa sallaam tentang Tha’un, maka beliau memberi tahu kepadaku: Dia adalah adzab yang Allah mengutusnya untuk menimpa siapa saja yang dikehendaki-Nya. Dan Allah jadikan ia sebagai rahmat bagi orang yang beriman. Tidaklah seseorang ketika terjadi wabah Tha’un, kemudian dia tetap berdiam tinggal di negerinya dengan bersabar, mengharap pahala dan meyakini bahwa tidak akan menimpanya kecuali atas ketetapan Allah, melainkan akan ditulis baginya pahala seperti pahala syahid” HR Bukhari.

Pada hadits di atas, untuk meraih pahala syahid dengan kriteria:

  1. Tetap tinggal di negerinya
  2. Bersabar
  3. Mengharap pahala dari Allah Azza wa Jalla
  4. Meyakini bahwa tidak akan menimpanya kecuali atas ketetapan Allah Azza wa Jalla. (usaha nyata dan yakin terhadap takdir).

Kekejian Menjadi Sebab Utama Terjadinya Tha’un

Al Hakim meriwayatkan hadits dari Abu Buraidah, bahwa Rasulullah sholaLlaahu ‘alaihi wa sallaam bersabda:

مَا نَقَضَ قَوْمٌ الْعَهْدَ قَطُّ إِلَّا كَانَ الْقَتْلُ بَيْنَهُمْ، وَمَا ظَهَرَتْ فَاحِشَةٌ فِي قَوْمٍ قَطُّ إِلَّا سَلَّطَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْهِمُ الْمَوْتَ، وَلَا مَنَعَ قَوْمٌ الزَّكَاةَ إِلَّا حَبَسَ اللهُ عَنْهُمُ القَطْرَ. الصحيحة 107 .

“Tidaklah satu kaum melanggar perjanjian, kecuali akan terjadi pembunuhan di antara mereka. Tidaklah kekejian nampak pada satu kaum, melainkan Allah ‘Azza Wajalla akan menguasakan maut atas mereka. Tidaklah satu kaum menahan/tidak membayar zakat, melainkan Allah Azza wa Jalla akan menahan hujan atas mereka” HR Hakim.

Pada lafadz lain:

لَمْ تَظْهَرِ الْفَاحِشَةُ فِي قَوْمٍ قَطُّ حَتَّى يُعْلِنُوا بِهَا إِلَّا فَشَا فِيْهِمُ الطَّاعُوْنُ وَالْأَوْجَاعُ الَّتِي لَمْ تَكُنْ مَضَتْ فِي أَسْلَافِهِمُ الَّذِيْنَ مَضَوْا…

“Tidaklah muncul kekejian pada satu kaum hingga dilakukan terang-terangan, kecuali akan menyebar pada mereka tha’un dan kelaparan yang belum pernah terjadi pada pendahulu mereka yang telah lalu” HR Ibnu Majah dan Al Hakim.

Tingkah kekejian berupa pemuasan syahwat kemaluan yang tidak syar’i / penyimpangan seksual seperti zina, LGBT, dll, yang dilakukan secara terang-terangan, menunjukan adanya kerusakan moral yang sangat parah. Yang mana penyimpangan syahwat lain, seperti syahwat mulut (makan makanan yang aneh untuk pemuas mulut) tentu lebih parah dari itu.

Demikian juga syahwat panca indra yang lain, tentu akan dipuaskan sekehendak mereka. Tidak peduli jorok yang penting kepuasan. Dengan demikian mereka tidak lagi mempedulikan dampaknya. Baik dampak terhadap dirinya maupun dampak terhadap orang lain. Hingga perbuatan buruk yang berbahayapun dilakukan.

Sesuai sunnatullah, akhirnya keburukan akan membuahkan keburukan pula. Setelah muncul sunnatullah ini, barulah orang melihat sebagai sebab kauni, yaitu sebab yang sering dikira-kira/diduga-duga oleh panca indra. Seperti lingkungan hidup yang tidak sehat, cuaca dan lain-lain yang sering dibicarakan oleh pakar kesehatan. Padahal bukan itu sebab utamanya.

Penyebab Utamanya Adalah Pelanggaran Syar’i / Kekejian

Lalu Allah Subhaanahu wa Ta’la giring mereka kepada jurang kebinasaan. Mereka melakukan tingkah laku yang mencelakakan diri mereka sendiri.

فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّىٰ إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُم بَغْتَةً فَإِذَا هُم مُّبْلِسُونَ (٤٤)

“Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka: sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS Al An’am: 44).

Mushibah Bisa Menjalar Kepada Semua Orang, Baik yang Jahat Maupun yang Shalih

وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَّا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنكُمْ خَاصَّةًۖ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ (٢٥)

“Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. dan ketahuilah bahwa Allah Amat keras siksaan-Nya.” (QS Al Anfal: 25).

Zainab binti Jahsy radhiyaLlaahu ‘anha (istri Rasulullah sholaLlaahu ‘alaihi wa sallaam) pernah bertanya:

..يَا رَسُولَ اللهِ؟ أَنَهْلِكُ وَفِيْنَا الصَّالِحُونَ؟ قَالَ: ((نَعَمْ إِذَا كَثُرَ الْخَبَثُ) رواه مسلم

“Ya Rasulullah! Apakah kita akan binasa, padahal ditengah-tengah kita ada orang shalih? Beliau menjawab: “Ya, jika telah banyak keburukan”. HR Muslim.

Berdasar ayat dan hadits di atas, maka mushibah bisa menimpa semua orang.

Problem Penyerta Tho’un Adalah Kelaparan

Rasulullah sholaLlaahu ‘alaihi wa sallaam menyebut kelaparan, ini untuk mempermudah penalaran. Kalau lapar sudah melanda, maka urusan selain perut, tentu sangat kritis. Kemiskinan tidak terelakkan. Jika sakit melanda, maka kegiatan ekonomi akan terganggu, minimal kurang produktif.

Ditambah dengan gaya hidup ala kuffar (non Islam), tentu mengakibatkan semakin tidak tertutup kebutuhan ekonominya. Kejahatan sangat dimungkinkan. Kondisi kenyang yang tanpa iman, orang berbuat jahat banyak sekali, apalagi saat kelaparan. Jika kelaparan melanda satu daerah, maka kejahatan mungkin melanda daerah itu dan sekitarnya. Bagaimana kalau kelaparannya mendunia?

Fal’iyadzubillah. La haula wala quwwata illa billah.

Kelaparan dan Ketakutan yang Mencekam Laksana Baju Menempel di Badan

نَفْسٍ مَّا عَمِلَتْ قَرْيَةً كَانَتْ آمِنَةً مُّطْمَئِنَّةً يَأْتِيهَا رِزْقُهَا رَغَدًا مِّن كُلِّ مَكَانٍ فَكَفَرَتْ بِأَنْعُمِ اللَّهِ فَأَذَاقَهَا اللَّهُ لِبَاسَ الْجُوعِ وَالْخَوْفِ بِمَا كَانُوا يَصْنَعُونَ (١١٢)

“Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezkinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah: karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat.” (QS An Nahl: 112).

Allah SWT Akan Membuat Mereka Merasakah Sebagian dari Akibat Perbuatan Mereka Sendiri agar Kembali kepada Jalan Petunjuk-Nya:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ (٤١)

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS Ar Ruum: 41)

Solusinya Adalah Kembali ke Jalan Allah

Pada saat terjadi wabah manusia pun bingung mencari penyebab dan solusi. Hanya orang yang beriman dan berilmu yang selamat dari kebingungan. Karena penyebab, akibat dan solusinya telah dipaparkan oleh Nabinya sholaLlaahu ‘alaihi wa sallaam sejak 14 abad yang lalu.

Mereka tinggal membacanya dan mengamalkan petunjuk Nabinya sholaLlaahu ‘alaihi wa sallaam kemudian menuai kebaikan dunia dan pahala yang besar di akhirat kelak.

Di antara upaya yang kita lakukan yaitu:

  1. Bertaubat dengan melengkapi syarat-syaratnya. Meninggalkan kekejian dan seluruh sarananya yang menghantarkan kepadanya baik secara langsung maupun melalui media, menyesalinya, istighfar, bertekad untuk tidak mengulanginya dan menghapus keburukan dengan amal yang lebih baik atau paling tidak sebanding. Jika matanya pernah dipakai melihat kekejian 1 jam, maka segeralah ganti dengan membaca Al Quran atau hadits dengan melihat tulisan selama 1 jam atau lebih. Demikan untuk indra yang lain. Jika pernah membelanjakan harta untuk kekejian Rp 10.000,- maka gantilah dengan bersedekah yang lebih besar atau minimal sebanding. Dan seterusnya untuk maksiat yang lain.
  2. Mempelajari konsep Islam dalam menghadapi musibah dan aturan hidup pada umumnya.
  3. Dakwahkan Islam kepada diri, keluarga maupun orang lain.
  4. Lakukan itu semua dengan ikhlash dan serius.

Sikap Teladan Menghadapi Wabah Tha’un / Penyakit Menular

Pernah terjadi wabah di Syam, sementara Umar radhiyaLlaahu ‘anhu datang dengan pasukan.

عَنْ عَبْدِ اللهِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ عمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ خَرَجَ إِلَى الشَّامِ حَتَّى إِذَا كَانَ بِسَرْغَ لَقِيَهُ أَهْلُ الْأَجْنَادِ أَبُوْ عُبَيْدَةَ بْنِ الْجَرَّاحِ وَأَصْحَابُهُ فَأَخْبَرُوْهُ أَنَّ الْوَبَاءَ قَدْ وَقَعَ بِالشَّامِ.

Dari Abdullah bin Abbas: Bahwasanya Umar bin Al Khaththab radhiyaLlaahu ‘anhu keluar menuju syam, ketika sampai di Sargha, pemimpin pasukan Abu Ubaidah bin Jarrah dan para shahabatnya menemuinya, kemudian mengabarkan bahwa di Syam terjadi wabah.

قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ فَقَالَ عُمَرُ: اُدْعُ لِي الْمُهَاجِرِيْنَ الْأَوَّلِيْنَ. فَدَعَوْتُهُمْ فَاسْتَشَارَهُمْ وَأَخْبَرَهُمْ أَنَّ الْوَبَاءَ قَدْ وَقَعَ بِالشَّامِ فَاخْتَلَفُوا، فَقَالَ بَعْضُهُمْ: قَدْ خَرَجْتَ لِأَمْرٍ وَلَا نَرَى أَنْ تَرْجِعَ عَنْهُ.

“Ibnu Abbas menuturkan: lalu Umar radhiyaLlaahu ‘anhu berkata: Panggilkan para muhajirin yang awal untuk menghadapku. Akupun memanggil mereka. Maka beliau bermusyawarah dan mengabarkan kepada mereka bahwa wabah sedang terjadi di Syam. Merekapun berselisih pendapat. Sebagian berkata: Anda telah keluar untuk suatu urusan, maka kami berpendapat: Anda jangan kembali pulang darinya.”

وَقَالَ بَعْضُهُمْ: مَعَكَ بَقِيَّةُ النَّاسِ وَأَصْحَابُ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم وَلَا نَرَى أَنْ تُقْدِمَهُمْ عَلَى هَذَا الْوَبَاءِ. فَقَالَ ارْتَفِعُوا عَنِّي.

“Sebagian yang lain berkata: Anda bersama dengan orang-orang dan para sahabat Rasulillah sholaLlaahu ‘alaihi wa sallaam, maka kami mengusulkan agar anda jangan gegabah membawa mereka pada wabah ini. Lalu Umar radhiyaLlaahu ‘anhu berkata: Pergilah kalian dariku.”

ثُمَّ قَالَ: ادْعُ لِي الْأَنْصَارَ! فَدَعَوْتُهُمْ لَهُ فَاسْتَشَارَهُمْ فَسَلَكُوا سَبِيْلَ الْمُهَاجِرِيْنَ وَاخْتَلَفُوا كَاخْتِلَافِهِمْ. فَقَالَ: ارْتَفِعُوا عَنِّي.

“Kemudian Umar radhiyaLlaahu ‘anhu berkata: Coba panggilkan orang-orang Anshar untuk menghadapku! Maka akupun memanggil mereka untuk menghadapnya. Lalu Umar radhiyaLlaahu ‘anhu meminta pendapat mereka. Mereka berlaku seperti para Muhajirin, berselisih sebagaimana muhajirin berselisih. Lalu Umar radhiyaLlaahu ‘anhu berkata: Pergilah kalian dariku.”

ثُمَّ قَالَ: ادْعُ لِي مَنْ كَانَ هَاهُنَا مِنْ مَشْيَخَةِ قُرَيْشٍ مِنْ مُهَاجِرَةِ الْفَتْحِ. فَدَعَوْتُهُمْ فَلَمْ يَخْتَلِفْ عَلَيْهِ رَجُلَانِ، فَقَالُوا نَرَى أَنْ تَرْجِعَ بِالنَّاسِ وَلَا تُقْدِمْهُمْ عَلَى هَذَا الْوَبَاءِ.

“Kemudian Umar radhiyaLlaahu ‘anhu berkata: Panggilkan orang yang berada di sini dari orang-orang tua Quraisy yang hijrah sebelum Futuh. Akupun mengundang mereka, maka tidak ada seorang pun yang berselisih padanya. Mereka berkata: Kami berpendapat: Hendaklah anda bawa pulang saja orang-orang itu.”

فَنَادَى فِي النَّاسِ: إِنِّي مُصْبِحٌ عَلَى ظَهْرٍ فَأَصْبِحُوا عَلَيْهِ. فَقَالَ أَبُو عُبَيْدَةَ بْنِ الْجَرَّاحِ:أَفِرَارًا مِنْ قَدَرِ اللهِ؟

“Maka beliau memanggil orang-orang: Sungguh telah jelas bagiku, maka hendaklah kalian ikuti pendapatnya. Abu Ubaidah bin Jarrah radhiyaLlaahu ‘anhu berkata: Apakah anda lari dari takdir Allah?”

فَقَالَ عُمَرُ:لَوْ غَيْرُكَ قَالَهَا يَا أَبَا عُبَيْدَةَ- وَكَانَ عُمَرُ يَكْرَهُ خِلَافَهُ-

“Maka Umar radhiyaLlaahu ‘anhu berkata: Aku kira bukan engkau yang berkata itu wahai Abu Ubaidah! Umar radhiyaLlaahu ‘anhu membenci perselisihannya.”

نَعَمْ. نَفِرُّ مِنْ قَدَرِ اللهِ إِلَى قَدَرِ اللهِ. أَرَأَيْتَ لَوْ كَانَتْ لَكَ إِبِلٌ فَهَبَطْتَ وَادِيًا لَهُ عِدْوَتَانِ إِحْدَاهُمَا خَصْبَةٌ وَالْأُخْرَى جَدْبَةٌ أَلَيْسَ إِنْ رَعَيْتَ الْخَصْبَةَ رَعَيْتَهَا بِقَدَرِ اللهِ وَإِنْ رَعَيْتَ الْجَدْبَةَ رَعَيْتَهَا بِقَدَرِ اللهِ؟

“Iya. Kita lari dari takdir Allah menuju takdir Allah yang lain. Bagimana pendapatmu? Seandainya kamu mempunyai unta, lalu kamu bawa ke satu lembah (untuk digembalakan), lembah itu memiliki dua tepi. Salah satu tepinya subur (banyak rumputnya) dan tepi yang lain tandus (gersang tidak berumput). Bukankah jika engkau menggembalakan pada tepi yang subur, kamu menggembala dengan takdir Allah? Dan jika engkau menggembala pada tepi yang gersang juga engkau menggembala berdasar takdir Allah?”

قَالَ:فَجَاءَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ ابْنُ عَوْفٍ وَكَانَ مُتَغَيِّبًا فِي بَعْضِ حَاجَتِهِ، فَقَالَ إِنَّ عِنْدِي مِنْ هَذَا عِلْمًا ، سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ ((إِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ بِأَرْضٍ فَلَا تَقْدَمُوْا عَلَيْهِ وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلَا تَخْرُجُوْا فِرَارًا مِنْهُ)).

“Ibnu Abbas berkata: lalu datanglah Abdurrahman bin Auf yang sejak tadi tidak nampak karena menunaikan keperluannya. Lalu dia berkata: Sungguh aku memiliki ilmu tentang ini (wabah). Aku mendengar Rasulullah sholaLlaahu ‘alaihi wa sallaam bersabda: ((Jika kalian mendengar satu wabah berjangkit di satu daerah, maka janganlah kalian mendatanginya. Dan jika wabah itu berjangkit di satu daerah yang kamu berada di dalamnya, maka janganlah kalian keluar untuk menghindar darinya)).”

قَالَ فَحَمِدَ اللهَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ، ثُمَّ انْصَرَفَ. رواه البخاري ومسلم.

“Ibnu Abbas berkata: Maka Umar bin Al Khaththab radhiyaLlaahu ‘anhu memuji Allah lalu pergi” HR Muslim.

Ibnu Qayyim al Jauziyah dalam kitabnya Zadul Ma’ad berkata:

فَإِنْ قِيْلَ: فَفِي قَوْلِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم:(لَا تَخْرُجُوا فِرَارًا مِنْهُ) مَا يُبْطِلُ أَنْ يَكُوْنَ أَرَادَ هَذَا الْمَعْنَى الَّذِي ذَكَرْتُمُوْهُ، وَأَنَّهُ لَا يَمْنَعُ الْخُرُوْجَ لِعَارِضٍ لَا يَحْبَسُ مُسَافِرًا عَنْ سَفَرِه؟

Maka apabila dikatakan: Pada sabda Nabi sholaLlaahu ‘alaihi wa sallaam ((janganlah kalian keluar untuk lari darinya)) apa yang membatalkan maksud dari makna yang anda sebutkan: bahwasanya (hadits itu) tidak melarang untuk keluar bagi orang yang menghadapinya dan tidak menghalangi musafir dari bepergiannya?

قِيْلَ: لَمْ يَقُلْ أَحَدٌ طَبِيْبٌ وَلَا غَيْرُهُ ، إِنَّ النَّاسَ يَتْرُكُوْنَ حَرَكَاتِهِمْ عِنْدَ الطَّوَاعِيْنَ، وَيَصِيْرُوْنَ بِمَنْزِلَةِ الْجَمَادَاتِ، وَإِنَّمَا يَنْبَغِي فِيْهِ التَّقَلُّلُ مِنَ الْحَرَكَةِ بِحَسَبِ الْإِمْكَانِ، وَالْفَارُّ مِنْهُ لَا مُوْجِبُ لِحَرَكَتِهِ إِلَّا مُجَرَّدَ الْفِرَارِ مِنْهُ، وَدَعتُهُ وَسُكُوْنُهُ أَنْفَعُ لِقَلْبِهِ وَبَدَنِهِ، وَأَقْرَبُ إِلَى تَوَكُّلِهِ عَلَى اللهِ تَعَالَى، وَاسْتِسْلَامِهِ لِقَضَائِهِ.

“Maka dijawab: Tidak ada seorang dokterpun atau yang lainnya yang mengatakan: bahwasanya manusia meninggalkan kegiatannya saat wabah tha’un sehingga mereka berhenti seperti benda-benda mati, hanya saja (dikatakan): hendaknya saat tha’un, mereka menyedikitkan kegiatan sedapat mungkin. Dan lari darinya, bukan berarti mengharuskan untuk geraknya, kecuali dia semata-mata lari menghindarnya saja. Dan meninggalkan (kegiatan)nya serta diamnya itu lebih bermanfaat untuk hati dan badannya, dan lebih dekat tawakkalnya kepada Allah, dan kepasrahan menerima takdir-Nya.”

وَأَمَّا مَنْ لَا يَسْتَغْنِي عَنِ الْحَرَكَةِ، كَالصَّنَّاعِ، وَالْأُجَرَاءِ، وَالْمُسَافِرِيْنَ، وَالْبُرُدِ، وَغَيْرِهِمْ، فَلَا يُقَالُ لَهُمْ: اُتْرُكُوا حَرَكَاتِكُمْ جُمْلَةً، وَإِنْ أُمِرُوا أَنْ يَتْرُكُوا مِنْهَا مَا لَا حَاجَةَ لَهُمْ إِلَيْهِ، كَحَرَكَةِ الْمُسَافِرِ فَارًّا مِنْهُ، وَاللهُ تَعَالَى أَعْلَمُ.

“Adapun orang yang tidak mungkin meninggalkan kegiatan seperti produksi, pekerja, musafir, kurir dan lainnya, maka tidak dikatakan kepada mereka: Tinggalkan kegiatan kalian seluruhnya. Dan jika diperintahpun hanya dikatakan kepada mereka: Tinggalkan apa-apa yang tidak mereka perlukan. Seperti kegiatan safar hanya untuk lari menghindar darinya.” Wallahu A’lam.

Kemudahan Ibadah Saat Tha’un

Jika tidak bisa beribadah sebagaimana mestinya karena sakit maka dihitung seperti amal yang biasa dilakukan. Abu Burdah berkata:

سَمِعْتُ أَبَا مُوْسَى مِرَارًا يَقُوْلُ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلّم: إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيْمًا صَحِيْحًا. رواه البخاري

“Aku mendengar Abu Musa berulang-ulang mengatakan: Rasulullah sholaLlaahu ‘alaihi wa sallaam bersabda: Jika seorang hamba sakit atau dalam bepergian maka ditulis baginya seperti yang biasa dia lakukan ketika mukim/di rumah dan sehat.” HR Bukhari.

Kesimpulan dalam tanya Jawab

Ini merupakan kumpulan perbincangan dan tanya jawab yang sering terdengar di lingkungan sekitar kita.

  • Tanya: Apakah Covid 19 termasuk Tha’un?
  • Jawab: Dilihat dari tanda-tandanya, dia termasuk tha’un.

 

  • Tanya: Apakah Tha’un hanya menyerang orang kafir?
  • Jawab: Tidak. Muslim bisa juga terserang. Oleh karena inilah Nabi sholaLlaahu ‘alaihi wa sallaam melarang datang kepadanya dan keluar darinya bagi penduduk yang terserang Tha’un.

 

  • Tanya: Orang yang kuat fisiknya tidak akan tertular. Apakah ini benar?
  • Jawab: Tidak benar. Sungguh pasukan yang bersama Umar radhiyaLlaahu ‘anhu tentu sangat kuat. Namun mereka tetap tidak boleh mendekatinya. Dan hadits larangan tadi bersifat umum, tidak hanya untuk orang yang lemah.

 

  • Tanya: Kita tidak perlu menghindar dan kita harus percaya kepada takdir.
  • Jawab: Ucapan ini nampak seperti kebenaran, namun kekeliruannya nampak jelas. Perhatikan: Hadits taqdir, perawinya adalah Umar radhiyaLlaahu ‘anhu. Seorang perawi tentu lebih paham dibanding yang lain. Apalagi Umar radhiyaLlaahu ‘anhu. Dia seorang yang cerdas, kuat, dan pemberani. Beliau yang meriwayatkan haditsnya dan beliau pula yang mempraktekkannya agar umat mencontoh dalam memahami dalil dan mengamalkannya. Apakah Umar radhiyaLlaahu ‘anhu nekad? Jawabnya: Beliau tidak nekad, beliau berusaha menghindar dan beliau menjelaskan tentang pemahaman dan pengamalan iman kepada takdir. Ketahuilah bahwa taqdir termasuk perbuatan dan sifat Allah. Maka berlakulah kaidah umum untuk memahami sifat Allah. Kalau diterapkan pada takdir bisa kita katakan: “Takdir maknanya diketahui (orang mengetahui arti kata -takdir-), dan kaifiyahnya (cara Allah menentukan takdir) tidak diketahui oleh kita, beriman kepada takdir hukumnya wajib dan mempertanyakan kaifiyahnya adalah bid’ah).

 

  • Tanya: Apakah penyakit Tha’un akan hilang dengan datangnya bulan Ramadhan?
  • Jawab: Untuk menjawab itu harus berdasar dalil yang kuat. Yang betul-betul dari Rasulullah sholaLlaahu ‘alaihi wa sallaam. Selagi tidak ada dalil, maka tidak boleh dipercaya. Demikian juga untuk bulan yang lain. Berdasar ayat (فمن كان منكم مريضا أو على سفر….) ini menunjukkan bahwa di bulan Ramadhan ada orang sakit. Dan sakit sifatnya umum. Bisa jadi covid dan yang semisalnya tetap berlangsung di bulan Ramadhan.

 

  • Tanya: Apakah orang yang sudah terkena tha’un lalu sembuh, akan kebal dan tidak akan terkena lagi?
  • Jawab: Berdasarkan hadits Nabi sholaLlaahu ‘alaihi wa sallaam (فَيَذْهَبُ الْمَرَّةَ وَيَأْتِي الْأُخْرَى) bahwa “Tha’un terkadang pergi dan terkadang datang lagi”, ini menunjukkan adanya kemungkinan terserang kembali. Dan pandemi yang sama bisa saja terulang lagi. Tha’un termasuk pasukan Allah, dia akan datang menyerang sesuai dengan perintah Allah. (أَنَّهُ عَذَابٌ يَبْعَثُهُ اللهُ عَلَى مَنْ يَّشَاءُ) “Dia adalah adzab yang Allah mengutusnya untuk menimpa siapa saja yang dikehendaki-Nya”.

 

  • Tanya: Bagaimana tha’un menjadi rahmat bagi umat Nabi sholaLlaahu ‘alaihi wa sallaam?
  • Jawab: Rahmat adalah kasih sayang Allah. Tha’un menjadi rahmat, karena besarnya pahala yang Allah berikan kepada orang yang beriman saat tertimpa tha’un. Bahkan pahala syahid jika sampai meninggal dunia. Adakah kematian yang lebih mulia dari syahid? Perlu diketahui bahwa rahmat berbeda dengan kesenangan. Para nabi adalah manusia yang sangat dirahmati Allah, akan tetapi mereka tertimpa bala yang lebih besar dibanding manusia lain. Namun berakhir dengan kebahagiaan dunia dan akhirat.

Ringkasan:

  • Penyakit berbahaya(mematikan) yang cepat menular disertai panas dan kelenjar, adalah termasuk ciri-ciri Tha’un.
  • Tha’un disebabkan oleh kekejian
  • Tha’un terkadang mereda dan satu saat bisa muncul kembali.
  • Tha’un bisa menyerang orang kafir maupun orang beriman.
  • Tha’un sebagai siksaan atas orang kafir.
  • Tha’un sebagai rahmat dan pahala syahid bagi umat Nabi Muhammad sholaLlaahu ‘alaihi wa sallaam
  • Untuk mendapat rahmat dan pahala syahid tentu dengan keimanan yang benar, tunduk dan patuh kepada sunnah dan berharap pahala.
  • Penyerta tha’un adalah kelaparan dengan segala problemnya.
  • Berdoalah agar Allah Azza wa Jalla memberi kesehatan dan kecukupan. (cari di buku “dzikir pagi dan petang”).
  • Keharusan mempelajari Islam, mengamalkan dan mendakwahkan.

Semoga menjadi renungan dan menambah hazanah ilmu yang bermanfaat bagi penyusun makalah ini dan bagi pembaca.

Leave a Reply

Butuh bantuan Download dan Info Lengkap?