Alfamart Memberi Pelatihan Manajemen Ritel bagi UMKM di Karawang

Melihat Keunggulan Coworking Space dari Kaca Mata Ekonomi
Melihat Keunggulan Coworking Space dari Kaca Mata Ekonomi
August 15, 2017

Di tengah geliat persaingan bisnis ritel di Indonesia dan terpaan tuduhan mematikan iklim usaha toko-toko kecil, Alfamart, sebuah brand terkemuka dari jaringan toko swalayan yang dimiliki oleh PT Sumber Alfaria Trijaya kemudian menggandeng para pelaku UMKM. Di Karawang, bertajuk Pelatihan Manajemen Ritel bagi UMKM, saya bersama kawan-kawan dari blogger Karawang Forum Lingkar Pena hadir di sana atas undangan pihak manajemen Alfamart, menyaksikan langsung bagaimana para pelaku usaha mikro kecil menengah antusias berpartisipasi.

Sebagai sebuah kegiatan entrepreneurship, event semacam ini tentu patut menjadi model bagi pelaku bisnis ritel besar untuk mengikutinya. Bangsa yang besar adalah bangsa yang berkeadilan dan berkemakmuran dalam sendi ekonomi terutama disisi rakyatnya. Tanggung jawab ini pasti diemban oleh semua elemen, baik pemerintah, swasta, dan rakyat itu sendiri.

Kita tahu bahwa roda perdagangan di kelas bawah dimulai dari sebuah warung eceran kecil. Warung atau toko kecil eceran yang menjual kebutuhan sehari-hari memang menjadi pilihan bagi mereka memulai usaha.

Pelatihan Manajemen Ritel bagi UMKM

Warung eceran dianggap mudah dalam pengelolaan, selain faktor modal yang relatif kecil dan nilai keuntungan yang bisa dibilang besar adalah beberapa variable yang menarik untuk memiliki usaha jenis ini.

Fenomena tersebut diungkapkan dalam Pelatihan Manajemen Ritel bagi UMKM yang diselenggarakan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk, di kantor cabang Alfamart, pada Senin (20/11/2017), di mana saya dan teman-teman blogger Karawang menjadi saksinya.

Hanya saja pengelolaan yang kurang baik menjadi faktor utama yang menyebabkan tidak sedikit UMKM tersebut yang kemudian malah merugi atau tidak berkembang.

Pelatihan Manajemen Ritel bagi UMKM

Saya dan pak Akmal Maulana, Member Relations Coordinator Alfamart Karawang.

Member Relations Manager Alfamart, Pak Akmal yang menjadi presentator pada program tersebut menjelaskan bahwa tidak adanya pencatatan dan pemisahan antara barang yang menjadi modal usaha dengan yang dikonsumsi sendiri adalah salah satu hal yang menyebabkan terjadinya rugi. Karena itulah kemudian membuat Alfamart berupaya untuk memberikan pelatihan kepada para pelaku UMKM tersebut. Diharapkan nantinya sebagai salah satu ritel modern, Alfamart mampu menjadi motor penggerak dan mitra utama UMKM dan mampu membina dengan mentransfromasikan ilmu manajemen ritel yang baik.

Pelatihan Manajemen Ritel bagi UMKM

Pada program Pelatihan Manajemen Ritel bagi UMKM yang diharapkan dapat diikuti oleh para pemilik usaha warung eceran itu, peserta memperoleh beberapa materi terkait dengan beberapa hal sebagai berikut:

  • Manajemen penataan barang,
  • Pengaturan stok barang,
  • Manajemen keuangan (cash flow),
  • Tips mengamati tren pasar terkait produk yang sedang diminati,
  • Pelayanan.

Pak Akmal memaparkan bahwa sudah banyak pedagang telah menjalankan prinsip manajemen ritel modern dalam usahanya, hanya saja mereka belum mengetahui kenapa 5 hal tertsebut di atas musti dilakukan. Misalnya dalam penataan barang dagangan, masih banyak pemilik warung tak mengetahui prinsip FIFO. Prinsip FIFO adalah prinsip penanggalan kedaluwarsa produk. Selain itu, pada produk makanan dan bukan makanan, masih banyak pedagang eceran yang tidak melakukan manajemen pemisahan.

Pak Akmal menambahkan bahwa penataan barang harus mengacu pada penanggalan kedaluwarsa agar memastikan kelayakan produk yang dijual. Tidak saja tentang penataan tanggal kadaluwarsa, para peserta dalam acara Pelatihan Manajemen Ritel bagi UMKM tersebut juga diberikan pemahaman tentang menata barang yang menarik. Menata  / mendisplay barang adalah penting agar bisa menarik konsumen. Selain itu para peserta juga di jelaskan tentang manajemen stock, agar pemilik warung harus segera mengisi barang yang cepat habis. Hal tersebut untuk menghindari terjadinya kehilangan potensi penjualan atau lost sales.

Beberapa peserta pelatihan terlihat sangat antusias mengikuti pelatihan. Di antara mereka ada yang mengakui belum pernah mengikuti pelatihan ritel.

Sebagai blogger yang selalu menuliskan harapan-harapan tentang masa depan yang baik bagi negeri ini, saya berharap acara seperti ini tentunya akan memupuk pengetahuan bagi para pedagang kecil pelaku UMKM.

Selain kejadian lucu tentang sepatu di pintu masuk gedung yang menjadi lokasi pelatihan, ada beberapa hal yang patut saya catat tentang permintaan supplai barang yang masih menjadi kendala dipihak Alfa mart. Seorang ibu-ibu di sebelah saya yang menyebutkan bahwa dirinya beberapa kali mengikuti pelatihan ini, Alfamart masih harus bisa mewadahi aspirasi item-item laris yang dinilai di sisi para pedagang.

Pelatihan Manajemen Ritel bagi UMKM

Ibu Elisa menjelaskan pada kami blogger Karawang tentang event pelatihan ini

Menurut Ibu Elisa Refila dari pihak Alfamart yang saya temui di akhir acara Pelatihan Manajemen Ritel bagi UMKM di Karawang ini,  bahwa pelatihan ini merupakan salah satu bentuk dari CSR (corporate social responsibility) yang dilakukan oleh Alfamart. Pelatihan ini adalah langkah yang mendorong agar para pelaku usaha ritel tradisional bisa lebih baik dan maju.

Selain program CSR tersebut, Alfamart juga sedang menjalan program yang memajukan usaha mikro kecil dan menengah dengan membantu pemenuhan pasokan barang. Pemenuhan pasokan barang ini dijalankan melalui program OBA (Outlet Binaan Alfamart). Hingga Juni 2017, sudah ada 555 pemilik warung yang menjadi pedagang mitra Alfamart.