Bakteri Pengurai Styrofoam dan Plastik Polystyrene dari Penelitian Stanford

Riset berhasil menumbuhkan ubi jalar dengan vitamin A lebih
Sebuah Riset Berhasil Menumbuhkan Ubi Jalar dengan vitamin A Lebih
October 15, 2016
Cara mudah memperlambat tanda-tanda penuaan
Cara Mudah Memperlambat Tanda-Tanda Penuaan
November 16, 2016

Masalah Styrofoam? Yuk simak tentang bakteri pengurai Styrofoam dan plastik polystyrene dari penelitian di Stanford.

Styrofoam memang material paling praktis sebagai kemasan. Akan tetapi Styrofoam menyisakan masalah penguraian yang tidak ditemukan secara alami. Styrofoam pada akhirnya menjadi masalah yang kian tidak terpecahkan. Di kota-kota besar, Styrofoam banyak disinyalir menjadi dalang penyebab meluapnya drainase dan banjir. Dan baru-baru ini kota Bandung akan menjadi kota pertama di Indonesia yang melarang penggunaan Styrofoam. Melalui wali kotanya yang fenomenal, bersumber dari: https://www.antaranews.com, Ridwan Kamil, per 1 November 2016, Styrofoam akan resmi diharamkan terlihat di kota Bandung.

Bicara tentang permasalahan sampah akibat penggunaan Styrofoam, bagaimana dunia penelitian sejauh ini dalam berperan serta dalam menemukan solusinya?

Para peneliti di Stanford menemukan bakteri pengurai yang bisa membusukkan material-material plastik polystyrene termasuk Styrofoam.

Studi yang bermula pada tahun 2015 dan hingga kini masih berlangsung itu yang dilakukan oleh para insinyur dari Stanford. Mereka bekerja sama dengan para peneliti di China. Hasil penelitian itu memperlihatkan bahwa larva yang biasa membantu pembusukan makanan ternyata bisa juga digunakan untuk menguraikan berbagai jenis plastik, termasuk Styrofoam.

Styrofoam di Amerika Serikat

  • Di Amerika Serikat saja ada 2,5 milyar sampah Styrofoam yang dibuang setiap tahunnya.
  • Styrofoam merupakan bagian kecil dari 33 juta tons sampah plastik yang dibuang di Amerika Serikat per tahun.
  • Kurang dari 10 persen dari sampah tersebut bisa didaur-ulang.
  • 90 persen sisanya masih menjadi pekerjaan rumah yang mencemari air dan meracuni banyak binatang.

Bakteri pengurai Styrofoam

Bakteri pengurai Styrofoam dan plastik polystyrene

Tentang larva pengurai makanan

Belatung, mungkin kita menyebutnya, ia adalah larva berbentuk ulat yang biasa memakan sampah organik dari sisa makanan, tumbuhan mati hingga bangkai hewan dan manusia.

Ulat pembusuk ini sebenarnya adalah bentuk larva dari sejenis kumbang. Larva tersebut bisa hidup dengan memakan Styrofoam dan bermacam plastik sejenis lainnya dari bahan polystyrene. Hal tersebut dijelaskan dalam sebuah penelitian yang diterbitkan di pubs.acs.org.  Jurnal ilmiah penelitian itu sendiri disusun oleh Wei-Min Wu, seorang insinyur peneliti di Department of Civil and Environmental Engineering di universitas Stanford.

Tentu saja penemuan bentuk penguraian plastik oleh organisme mikro ini menjadi kejutan positif. Kejutan ilmiah itu bisa menjadi harapan akan selesainya masalah sampah yang menggunung.

Wei-Min Wu mengatakan bahwa temuan mereka jelas membuka semacam pintu baru guna menemukan pemecahan atas masalah polusi plastik secara global.

Solusi yang aman

Tulisan ilmiah bakteri pengurai Styrofoam dan plastik polystyrene diterbitkan di pubs.acs.org. Pada awalnya artikel itu ditujukan untuk menyediakan bukti detail pembusukan plastik dalam usus binatang oleh bakteri. Dan tentu saja untuk dapat memungkinkan pilihan baru yang lebih aman dalam penataan masalah sampah plastik adalah dengan memahami cara kerja ajaib bakteri dalam larva-larva.

Adalah Craig Criddle, seorang profesor teknik sipil dan lingkungan yang melakukan supervisi terhadap riset yang dilakukan oleh Wu dan rekan-rekannya di Stanford. Criddle mengatakan bahwa ada kemungkinan nantinya penelitian penting akan berasal dari sumber yang tidak biasa. Ia menambahkan jika kadang-kadang ilmu pengetahuan mengejutkan, benar-benar kejutan.

Proses di Laboratorium

Di laboratorium, 100 larva pembusuk memakan antara 34 hingga 39 miligram Styrofoam setiap harinya, itu berarti kira-kira seberat pil berukuran kecil.

Dalam 24 jam, para larva itu mengeluarkan kotoran mereka dalam dalam bentuk serpihan. Plastik yang telah berubah menjadi serpihan busuk itu mirip kotoran kelinci berukuran kecil. Larva-larva tersebut memakan Styrofoam tanpa terkena efek apapun. Mereka memakan Styrofoam tersebut seperti makanan pada umumnya. Kotoran yang dihasilkan oleh larva-larva itu terlihat seperti tanah yang aman untuk dipergunakan bagi pertanian.

Wu dan peneliti lain sebelumnya telah mempertunjukkan riset mereka terdahulu. Riset terdahulu mereka adalah  tentang waxworm. Waxworm adalah semacam larva ulat dari India. Ulat tersebut memiliki organisme mikro dalam perut mereka yang bisa membusukkan polythylene, semacam plastik yang digunakan untuk membuat produk tipis seperti kantong / tas belanja.

Riset baru pada larva pembusuk makanan ini tentu sangat penting mengingat Styrofoam diketahui sebelumnya sebagai material yang tidak bisa diurai oleh alam sehingga menjadi masalah bagi lingkungan.

Pentingnya riset ini bagi Industri

Para peneliti yang dipimpin oleh Criddle yang merupakan orang senior di Stanford, mereka berkolaborasi pada penelitian itu dengan Jun Yang dari Universitas Beihang di China. Mereka merencanakan akan meneliti apakah organisme mikro dalam perut larva pembusuk makanan itu dan serangga-serangga lainnya bisa mengurai polypropylene yang digunakan di bermacam produk dari tekstil hingga komponen otomotive, microbead yang digunakan dalam produk kosmetik, dan bio-plastik yang berasal dari sumber-sumber biomasa terbarukan seperti jagung dan biogas metana.

Dengan metode pendekatan secara berayun, para peneliti akan mengeksplorasi nasib bahan-bahan pada akhirnya ketika dikonsumsi oleh hewan-hewan kecil, berubah bentuk, lalu dikonsumsi lagi oleh hewan-hewan lainnya.

Menurut Criddle, area cakupan penelitian lainnya bisa menyertakan pencarian terhadap lava pembusuk yang hidup di laut. Mengapa di laut? Itu karena sampah plastik terutama banyak yang mencemari laut, membunuh burung-burung laut, ikan, kura-kura dan kehidupan laut lainnya.

Penelitian yang berkesinambungan tentang bakteri pengurai Styrofoam dan plastik polystyrene ini harus ditingkatkan. Ini penting mengingat perlunya mengetahui kondisi terbaik pembusukan plastik dan enzim-enzim yang mengurai polymer. Semakin banyak penelitian diadakan,  diharapkan semakin membantu para ahli menciptakan enzim. Diharapkan nantinya ditemukan enzim yang lebih baik guna pembusukan plastik. Hal itu tentu akan membantu banyak pelaku industri dalam mendesain polymer yang tidak mengotori lingkungan dan tidak merusak rantai makanan.

Riset plastik yang dilakukan oleh Criddle sebenarnya terinspirasi oleh sebuah proyek di tahun 2004. Proyek tersebut mengevaluasi kemungkinan material bangunan yang bisa diurai secara alami. Proyek investigasi itu didanai oleh program benih Proyek Ventura Lingkungan dari institut Wood Stanford. Proyek itulah yang kemudian memunculkan sebuah perusahaan yang kini sedang mengembangkan bio plastik tidak beracun dengan nilai ekonomi yang bisa bersaing.

Artikel tentang masalah bakteri pengurai Styrofoam dan plastik polystyrene dari penelitian Stanford ini bersumber dari: