Berbukanya musafir

Kumpulan Artikel Puasa Ramadhan

BERBUKANYA MUSAFIR

1) Pertanyaan:

Seseorang yang sedang berpuasa melakukan perjalanan sejauh 73 (tujuh puluh tiga) kilo meter. Ia berang-kat dalam keadaan berpuasa dengan alasan bahwa ia akan tinggal di wilayah yang ditujunya itu. Ternyata ia tidak jadi tinggal di sana dan kembali lagi menempuh perjalanan sejauh itu pada hari itu juga. Dalam perjalanan pulangnya itu ia berbuka. Bagaimanakah qadha’ dan kaffarah (tebusan) baginya?

Jawaban:

Orang tersebut tidak boleh berbuka, karena jarak perjalanan yang ia tempuh tidak mencapai jarak yang membolehkannya mengqashar shalat. Untuk itu hendaknya ia bertobat kepada Allah karena perbuatannya itu, dan ia harus mengqadha hari tersebut sebagai penggantinya, namun demikian ia tidak harus mengeluarkan kaffarah, karena kaffarah itu hanya berlaku akibat hubungan suami-isteri pada siang bulan Ramadhan yang dilakukan oleh orang yang berkewajiban puasa, yaitu memerdekakan hamba sahaya, jika tidak mampu, maka berpuasa selama dua bulan berturut-turut, dan jika tidak mampu maka memberi makan kepada enam puluh orang miskin. Kaffarah ini pun diberlakukan bagi sang isteri, kecuali jika dipaksa oleh suaminya sementara ia tidak dapat menolaknya, dalam keadaan seperti ini maka ia tidak wajib kaffarah. Dan kaffarah itu tidak berlaku kecuali bagi mereka yang memang diwajibkan berpuasa.

Adapuan bagi orang yang sedang dalam perjalanan (musafir) bersama isterinya, lalu dalam perjalanan itu ia mencampuri isterinya, maka dalam hal ini tidak ada kaffarah. Namun jika saat itu ia sedang puasa, maka puasanya menjadi rusak, dan ia wajib mengqadhanya. Dan jika saat itu ia tidak sedang berpuasa, masalahnya sudah cukup jelas. Perlu diperhatikan, bahwa selain yang diakibatkan oleh hubungan suami-isteri, tidak ada kaffarah. Hal ini karena tidak adanya dalil yang menunjukkan hal itu, maka hukum asalnya adalah bebas dari ketentuan.
[“Fatawa Ash-Shiyam” karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin]

2) Pertanyaan:

Seorang laki-laki musafir dibolehkan tidak berpuasa pada bulan Ramadhan. Jika ia menyetubuhi istrinya yang sedang berpuasa, apakah ada kaffarah (tebusan)nya? Dan bagaimana menebusnya jika si istri dipaksa oleh suaminya?

Jawaban:

Menurut saya tidak ada kaffarah atasnya jika ia memang musafir yang jarak tempuhnya membolehkannya berbuka (tidak berpuasa), karena ia memang dibolehkan makan di siang Ramadhan, maka ia pun dibolehkan menggauli istrinya. Jika si istri sedang berpuasa, maka ia boleh berbuka karena hal tersebut, apalagi jika memang itu dipaksa oleh suaminya. Maka menurut saya itu tidak berdosa dan tidak ada kaffarah atasnya. Hanya Allahlah yang mampu memberi petunjuk.

[Syaikh Ibnu Utsaimin, Fatawa Ash-Shiyam, dikumpulkan oleh Muhammad Al-Musnad, hal. 41.]

3) Pertanyaan:

Syaikh Ibnu Utsaimin ditanya: Seorang pria melakukan perjalanan pendek, perjalanan itu dilakukan di bulan Ramadhan, maka ia pun tidak berpuasa. Ketika ia tiba di rumahnya pada siang hari Ramadhan, ia ingin menggauli istrinya dengan atau tanpa ridha istrinya, bagaimana hukum perbuatan suaminya itu dan bagaimana hukum istrinya jika melayani suaminya dengan ridha atau dengan paksaan?

Jawaban:

Mengenai suaminya, sebagaimana yang Anda dengar bahwa ia adalah seorang musafir yang tidak berpuasa lalu kembali ke kampungnya dalam keadaan tidak berpuasa. Dalam masalah ini ada perbedaan pendapat di antara ulama. Ada yang berpendapat: Bahwa seorang musafir jika ia telah sampai di kampung halamannya dalam keadaan tidak berpuasa maka ia harus imsak (menahan dari yang membatalkan) sebagai penghormatan terhadap hari itu, walaupun puasanya itu tidak dihitung karena ia diharuskan mengqadha puasa pada hari itu.

Sebagian ulama lainnya berpendapat: Bahwa seorang musafir jika telah sampai di kampung halamannya dalam keadaan tidak berpuasa, maka tidak diharuskan baginya untuk berpuasa dan boleh baginya untuk makan pada sisa hari itu. Kedua pendapat ini diriwayatkan dari Imam Ahmad, pendapat yang paling benar di antara kedua pendapat ini adalah tidak diwajibkan baginya untuk berpuasa pada sisa hari itu, karena jika ia berpuasa pada sisa hari itu maka puasanya tidak mendatangkan faedah apa pun, karena waktu tersebut bagi musafir itu bukan waktu yang harus dihormati, sebab pada hari itu dibolehkan baginya untuk makan dan minum sejak permulaan hari, sedangkan puasa sebagaimana yang telah kita ketahui, adalah menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkan sejak terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari. Karena itu, diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud ra bahwa ia berkata: “Barangsiapa yang makan dipermulaan hari maka hendaknya ia makan di akhir hari, karena siang hari baginya tidak terhormat (kerena tidak berpuasa)”. Berdasarkan ungkapan ini maka musafir yang sampai ke tempatnya dalam keadaan tidak berpuasa dibolehkan baginya untuk makan dan minum pada sisa hari itu. Adapun bersetubuh, tidak boleh baginya menyetubuhi istrinya yang sedang menjalankan puasa fardhu, karena hal itu akan merusak puasanya. Jika sang suami memaksanya dan menyetubuhinya, maka tidak ada kaffarah pada sang istri, dan tidak ada pula kaffarah bagi suaminya karena tidak diwajibkan baginya berpuasa sebab ia tiba di kampung halamannya dalam keadaan sedang tidak berpuasa.

Leave a Reply

Butuh bantuan Download dan Info Lengkap?